Memahami Sejarah Hijriah

Friday, January 18, 2008

Memahami Sejarah Hijriah
Said Aqiel Siradj
Ketua PBNU

Sebelum kedatangan agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW, masyarakat Arab memakai kalender lunisolar, yaitu kalender lunar yang disesuaikan dengan matahari. Tahun baru (Ra's as-Sanah = "Kepala Tahun") selalu berlangsung setelah berakhirnya musim panas sekitar September.
Bulan pertama dinamai Muharram, sebab pada bulan itu semua suku atau kabilah di Semenanjung Arabia sepakat untuk mengharamkan peperangan. Pada bulan Oktober, daun-daun menguning sehingga bulan itu dinamai Shafar ("kuning"). Bulan November dan Desember pada musim gugur (rabi`) berturut-turut dinamai Rabi`ul-Awwal dan Rabi`ul-Akhir. Januari dan Februari adalah musim dingin (jumad atau "beku"), sehingga dinamai Jumadil-Awwal dan Jumadil-Akhir. Kemudian salju mencair (Rajab) pada bulan Maret.
Bulan April di musim semi merupakan bulan Sya'ban (syi'b = lembah), saat turun ke lembah-lembah untuk mengolah lahan pertanian atau menggembala ternak. Pada bulan Mei, suhu mulai membakar kulit, lalu suhu meningkat pada bulan Juni. Itulah bulan Ramadhan ("pembakaran") dan Syawwal ("peningkatan").
Bulan Juli merupakan puncak musim panas yang membuat orang lebih senang istirahat duduk di rumah daripada bepergian, sehingga bulan ini dinamai Dzul-Qa`dah (qa`id = duduk). Akhirnya, Agustus dinamai Dzul-Hijjah, sebab pada bulan itu masyarakat Arab menunaikan ibadah haji ajaran nenek moyang mereka, Nabi Ibrahim AS.
Setiap bulan diawali saat munculnya hilal, berselang-seling 30 atau 29 hari, sehingga 354 hari setahun, 11 hari lebih cepat dari kalender solar yang setahunnya 365 hari. Agar kembali sesuai dengan perjalanan matahari dan agar tahun baru selalu jatuh pada awal musim gugur, maka dalam setiap periode 19 tahun ada tujuh buah tahun yang jumlah bulannya 13 (satu tahunnya 384 hari). Bulan interkalasi atau bulan ekstra ini disebut nasi' yang ditambahkan pada akhir tahun sesudah Dzul-Hijjah.
Ternyata, tidak semua kabilah di Semenanjung Arabia sepakat mengenai tahun-tahun mana saja yang mempunyai bulan nasi'. Masing-masing kabilah seenaknya menentukan bahwa tahun yang satu 13 bulan dan tahun yang lain cuma 12 bulan. Lebih celaka lagi, jika suatu kaum memerangi kaum lainnya pada bulan Muharram (bulan terlarang untuk berperang) dengan alasan perang itu masih dalam bulan nasi', belum masuk Muharram, menurut kalender mereka. Akibatnya, masalah bulan interkalasi ini banyak menimbulkan permusuhan di kalangan masyarakat Arab.
Setelah masyarakat Arab memeluk agama Islam dan bersatu di bawah pimpinan Nabi Muhammad SAW, maka turunlah perintah Allah SWT agar umat Islam memakai kalender lunar yang murni dengan menghilangkan bulan nasi'. Hal ini, tercantum dalam kitab suci Alquran Surat Attaubah ayat 36 dan 37. Dengan turunnya wahyu Allah di atas, Nabi Muhammad SAW mengeluarkan dekrit bahwa kalender Islam tidak lagi bergantung kepada perjalanan matahari.
Meskipun nama-nama bulan dari Muharam sampai Dzul-Hijjah tetap digunakan karena sudah populer pemakaiannya, bulan-bulan tersebut bergeser setiap tahun dari musim ke musim, sehingga Ramadhan ("pembakaran") tidak selalu pada musim panas dan Jumadil-Awwal ("beku pertama") tidak selalu pada musim dingin.
Mengapa harus kalender lunar murni? Hal ini, disebabkan agama Islam bukanlah hanya untuk masyarakat Arab di Timur Tengah saja, melainkan untuk seluruh umat manusia di berbagai penjuru bumi yang letak geografis dan musimnya berbeda-beda. Sangatlah tidak adil, jika misalnya Ramadhan (bulan menunaikan ibadah puasa) ditetapkan menurut sistem kalender solar atau lunisolar, sebab hal ini mengakibatkan masyarakat Islam di suatu kawasan berpuasa selalu di musim panas atau selalu di musim dingin.
Sebaliknya, dengan memakai kalender lunar yang murni, masyarakat Kazakhstan atau umat Islam di London berpuasa 18 jam di musim panas, tetapi berbuka puasa pukul empat sore di musim dingin. Umat Islam yang menunaikan ibadah haji pada suatu saat merasakan teriknya matahari Arafah di musim panas, dan pada saat yang lain merasakan sejuknya udara Makkah di musim dingin.
Pada masa Nabi Muhammad SAW, penyebutan tahun berdasarkan suatu peristiwa yang dianggap penting pada tahun tersebut. Misalnya, Nabi Muhammad saw lahir tanggal 12 Rabi`ul-Awwal Tahun Gajah ('Am al-Fil), sebab pada tahun tersebut pasukan bergajah, raja Abrahah dari Yaman berniat menyerang Ka'bah.
Ketika Nabi Muhammad saw wafat tahun 632, kekuasaan Islam baru meliputi Semenanjung Arabia. Tetapi, pada masa Khalifah Umar ibn Khattab (634-644) kekuasaan Islam meluas dari Mesir sampai Persia. Pada tahun 638, Gubernur Irak Abu Musa al-Asy`ari berkirim surat kepada Khalifah Umar di Madinah, yang isinya antara lain: "Surat-surat kita memiliki tanggal dan bulan, tetapi tidak berangka tahun. Sudah saatnya umat Islam membuat tarikh sendiri dalam perhitungan tahun."
Khalifah Umar ibn Khattab menyetujui usul gubernurnya ini. Terbentuklah panitia yang diketuai Khalifah Umar sendiri dengan anggota enam Sahabat Nabi terkemuka, yaitu Utsman ibn Affan, Ali ibn Abi Talib, Abdurrahman ibn Auf, Sa`ad ibn Abi Waqqas, Talhah ibn Ubaidillah, dan Zubair ibn Awwam. Mereka bermusyawarah untuk menentukan Tahun Satu dari kalender yang selama ini digunakan tanpa angka tahun. Ada yang mengusulkan perhitungan dari tahun kelahiran Nabi ('Am al-Fil, 571 M), dan ada pula yang mengusulkan tahun turunnya wahyu Allah yang pertama ('Am al-Bi'tsah, 610 M). Tetapi, akhirnya yang disepakati panitia adalah usul dari Ali ibn Abi Talib, yaitu tahun berhijrahnya kaum Muslimin dari Makkah ke Madinah ('Am al-Hijrah, 622 M).
Ali ibn Abi Talib mengemukakan tiga argumentasi. Pertama, dalam Alquran sangat banyak penghargaan Allah bagi orang-orang yang berhijrah (al-ladzina hajaru). Kedua, masyarakat Islam yang berdaulat dan mandiri baru terwujud setelah hijrah ke Madinah. Ketiga, umat Islam sepanjang zaman diharapkan selalu memiliki semangat hijriyah, yaitu jiwa dinamis yang tidak terpaku pada suatu keadaan dan ingin berhijrah kepada kondisi yang lebih baik.
Maka, Khalifah Umar ibn Khattab mengeluarkan keputusan bahwa tahun hijrah Nabi adalah Tahun Satu, dan sejak saat itu kalender umat Islam disebut Tarikh Hijriyah. Tanggal 1 Muharram 1 Hijriyah bertepatan dengan 16 Tammuz 622 Rumi (16 Juli 622 Masehi). Tahun keluarnya keputusan Khalifah itu (638 M) langsung ditetapkan sebagai tahun 17 Hijriyah. Dokumen tertulis bertarikh Hijriyah yang paling awal (mencantumkan Sanah 17 = Tahun 17) adalah Maklumat Keamanan dan Kebebasan Beragama dari Khalifah Umar ibn Khattab kepada seluruh penduduk Kota Aelia (Yerusalem) yang baru saja dibebaskan laskar Islam dari penjajahan Romawi.
Kalender Hijriyah setiap tahun 11 hari lebih cepat dari kalender Masehi, sehingga selisih angka tahun dari kedua kalender ini lambat laun makin mengecil. Angka tahun Hijriyah pelan-pelan 'mengejar' angka tahun Masehi, dan menurut rumus di atas keduanya akan bertemu pada tahun 20526 Masehi yang bertepatan dengan tahun 20526 Hijriyah. Saat itu, kita entah sudah berada di mana. "Demi waktu. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian." Begitulah, pesan Alquran dalam surah Al-'Ashr.
Ikhtisar
-Sebelum kedatangan Islam, masyarakat Arab memakai kalender lunisolar yang berpatokan pada matahari.
-Pada kalender tersebut, setiap 19 tahun terdapat tujuh tahun yang mendapat tambahan bulan untuk menyesuaikan awal tahun dengan musim gugur.
-Penetapan penambahan bulan kerap memicu pertikaian di antara para suku.
-Turun perintah Allah untuk menggunakan kalender lunar murni.
-Kalender lunar murni memberikan keadilan bagi seluruh warga bumi, misalnya dalam hal beban puasa.
-Khalifah Umar ibn Khattab memutuskan peristiwa hijrah Nabi dari Makkah ke Madinah sebagai tahun 1 yang diusulkan Ali ibn Abi Thalib.
Republioka, Rabu, 09 Januari 2008

Taufik Kiemas: ’Islam Politik, Berbahaya’

Taufik Kiemas: ’Islam Politik, Berbahaya’

SELASA, 11/9/07, saya menghadiri ceramah Taufik Kiemas, suami mantan Presiden Megawati, dalam acara seminar yang diadakan RSIS (Rajaratman School of International Studies) tempat saya kuliah. Seminar merupakan bagian dari mata kuliah yang wajib saya ikuti.

Taufik Kiemas datang atas undangan Indonesian Center RSIS yang dipimpin oleh Prof. Dr. Leonard Sebastian (Indonesianis Singapura). Tampak hadir menyertai Taufik para petinggi PDIP, di antaranya Pramono Anung, Sutradara Ginting, Puan Maharani dan beberapa yang tidak saya kenal.

Dalam kesempatan itu Taufik memaparkan dua hal pokok. Pertama, soal perkembangan PDIP dan persiapan menghadapi Pemilu 2009. Kedua soal terorisme dan sektarianisme di Indonesia. Pada poin pertama Taufik, dengan bahasa Indonesia yang diterjemahkan oleh seorang translator, memaparkan tentang cita-cita PDIP untuk membangun Indonesia sebagai rumah besar nasionalisme yang bertujuan mempertahankan Pancasila, NKRI dan mewujudkan pluralisme. “Mustahil nasionalisme tanpa pluraslisme,” tukas Taufik.

Untuk mewujudkan rumah besar itu, PDIP harus bekerjasama dengan pihak eksternal. Dalam hal ini ia menyebut Golkar untuk dalam negeri dan Amerika Serikat yang dianggap memiliki kemampuan campur tangan terhadap negara lain. “Saya tidak butuh orang-orang golkar. Yang saya butuhkan adalah Partai Golkar yang berhaluan pluralis,” ujar Taufik.

Sikap itu juga disampaikan saat Taufik dan kawan-kawan berkunjung ke Amerika Serikat (AS). Menurut Taufik, saat di AS ia menegaskan kembali tentang sikap PDIP sebagai partai oposisi di Indonesia dan sebagai partai nasionalisme yang menjunjung tinggi pluralisme.

Saat membahas bagian kedua dari ceramahnya tentang pluralisme dan terorisme di Indonesia, ia menyebutkan bahwa nasionalisme/pluralisme di Indonesia sedang menghadapi apa yang ia sebut sektarianisme. Sektarianisme inilah yang menjadi kelompok teroris. Persoalannya, menurut Taufik, bila kelompok teroris membentuk kelompok tersendiri akan lebih mudah untuk menumpasnya, tapi kini kelompok teroris itu telah masuk ke dalam partai politik sehingga lebih sulit dideteksi. Dan tanpa tedeng aling ia menyebut PKS.

Lebih lanjut ia menjelaskan, karena itulah mengapa kelompok nasionalis yang memperjuangan pluralisme di Indonesia bersatu melawan PKS dalam Pilkada di DKI Jakarta. Karena hanya dengan bersatu padu itulah mereka dapat mengalahkan PKS di sejumlah daerah. “Tampaknya melihat kaum pluralis bersatu mereka takut juga,” tandas Taufik.

Ia juga sempat menyitir pidato Pak Hidayat Nur Wahid, yang saya tidak tahu dimana, bahwa Pak Dayat berbicara tentang nasionalisme dan pluralisme, seolah-olah ia lebih nasionalis dari orang nasionalis sendiri.

Terus terang, mendengar paparan Taufik itu dada saya langsung bergemuruh. Tadinya tidak ada niat saya untuk bertanya. Saya datang hanya untuk menggugurkan kewajiban kuliah saja. Dan kita juga sama-sama tahulah kualitas Taufik, jadi saya pikir tak ada sesuatu yang bisa diambil. Di samping, kedatangan saya juga untuk menjaga hubungan baik saya dengan Andi Widjajanto (anak Theo Syafei yang sedang mengambil Phd. Di Singapura) teman sekelas saya di satu mata kuliah. Saya juga tahu Andi kini menjadi salah satu advicer penting di PDIP terkait persoalan militer.

Pada saat masuk sesi tanya jawab, reflek saya angkat tangan. Saya katakan, sebelum masuk ke pertanyaan saya ingin menanggapi dulu apa yang disampaikan Taufik tentang PKS. Saya perlu meluruskan masalah ini ke audience karena yang hadir adalah para mahasiswa RSIS dari berbagai negara. Apa jadinya jika mereka beranggapan bahwa setiap muslim harus dicurigai sebagai teroris sebagaimana yang disampaikan Taufik. Lebih berbahaya kalau mereka beranggapan PKS adalah supporter teroris di Indonesia.

Dengan sedikit emosi saya katakan, PKS adalah a small party in Indoensia, only 7 percent. PKS dibentuk oleh para generasi muda Indonesia yang mecoba mencari solusi terhadap berbagai persoalan di Indonesia. Mereka bercita-cita ingin membangun apa yang mereka sebut “The New Indoensia”/ Indonesia Baru. Dan perlu dicatat, mereka adalah lulusan universitas secular di Indonesia, seperti UI, UGM, ITB dan IPB.

Lalu saya jelaskan, tampaknya cita-cita mereka ini ditangkap oleh sebagain masyarakat Indonesia berpendidikan dan menginginkan perubahan. Karena itu terbukti, PKS unggul di Jakarta. Di sini saya memberi penekanan: “Jakarta adalah tolok ukur politik di Indonesia. Jika Anda ingin mengatahui the real politics in Indonesia dan proses demokratisasi di Indonesia, look at Jakarta!” Sebab jika Anda melihat Indonesia secara keseluruhan, maka sesungguhnya sebagian besar masyarakat Indonesia berpendidikan rendah yang mudah dibohongi oleh para elit partai.

Setelah itu barulah saya masuk ke pertanyaan sederhana: Apa konsep PDIP untuk membangun Indonesia. Pertanyaan itu tak dijawab secara baik oleh Taufik, karena mungkin ia keburu kaget ada orang PKS terselip di antara hadirin. Setelah tahu saya orang PKS pernyataannya menjadi melunak, ia katakan syukurlah kalo ternyata PKS sudah berubah.

Alhamdulillah, tampaknya hadirin mendapatkan informasi lain tentang PKS, hal itu terlihat dari pertanyaan2 yang terlontar, baik dari orang Indonesia sendiri, Singaporean, Malaysian, semua tampak bernada positif terhadap PKS. Beberapa kawan dari Indonesia dan beberapa negara menghampiri saya mengomentari penjelasan singkat saya itu.

Menurut saya, ceramah Taufik Kiemas di RSIS itu tak boleh dianggap angin lalu. Boleh jadi inilah gambaran sikap PDIP sendiri dan sikap partai-partai lain secara umum terhadap PKS. Sikap ini tampaknya akan melatari kebijakan partai untuk menghadapi Pemilu 2009. Isu terorisme, sektarianisme adalah isu usang namun efektif untuk menjatuhkan citra partai Islam. Sebagaimana tudingan militer secular Turki yang menuding Justice Party di Turki memiliki hidden agenda islamisme.

Wallahu a’lam

SUHUD ALYNUDIN

50 Nanyang Crescent Graduate Hall #03-18 Singapore 637598

Sumber: Risalah Mujahidin, Edisi 14 th II Dzulqa’dah 1428 H / November 2007

Umat Islam Harus Bersatu!!!

Sunday, December 23, 2007

Umat Islam Harus Bersatu !!!

Serangan tentara Israel terhadap para pejuang muslim di Palestina dan Lebanon beberapa hari yang lalu dan sampai sekarang masih berlangsung mewarnai pemberitaan di semua surat kabar. Serangn yang konon dilatarbelakangi oleh upaya pembelaan diri dan upaya pembebasan terhadap dua orang serdadunya yang ditawan oleh pejuang Hammas di Yordania tersebut sampai kini masih berlangsung dan bahkan meluas tidak hanya terarah pada Hammas saja tertapi juga sampai ke Lebanon. Bahkan kemungkinan serangan tersebut tidak akan berhenti di situ dan justru akan lebih meluas akibat pernyataan dari sang bos presiden AS George Bush yang tidak menyalahkan tingkah polah Israel tetapi justru menyalahkan pejuang Hizbullah di Lebanon selatan yang ikut campur. Tidak berhenti itu saja, cucu Paman Sam tersebut juga mengarahkan tuduhan ke arah Iran dan Suriah yang diduga mendukung dan menjadi sponsor atas serangan balasan dari para pejuang Hammas dan Hizbullah.

Situasi yang “ruwet” inilah yang memaksa umat islam di seluruh dunia menunjukkan empati dan simpati serta solidaritas mereka atas tindakan para tentara Israel. Di Indonesia, seluruh umat islam-pun mulai bergerak dan menunjukkan sikap solidaritas mereka dengan mengadakan aksi-aksi damai mengecam kekejaman tentara Israel, serta mendesak negara-negara islam untuk bersatu melawan tindakan Israel. Hujatan-hujatan diteriakkan atas Israel dan Yahudi di dalam aksi-aksi demonstrasi dan mimbar-mimbar masjid, penggalangan dana dilangsungkan di setiap daerah oleh semua ormas-ormas islam, di hampir setiap masjid dibacakan qunut nazilah ketika sholat wajib, bahkan sampai pendataan relawan-relawan mujahidin ke palestina pun ada juga dilakukan. Namun, di tengah-tengah aksi-aksi yang dilakukan umat islam tersebut terganjal sedikit kerikil-kerikil yang mengganggu penulis sehingga penulis menuliskan artikel ini. Ganjalan dan kerikil yang penulis rasakan tersebut adalah ketidakbersatuan umat islam dan ormas islam dalam menanggapi kasus palestina tersebut.
Hampir selama satu pekan ini, di Kota Solo berlangsung aksi-aksi solidaritas Palestina dari kelompok islam yang berbeda-beda. Hari Jumat, 14 Juli 2006, ratusan massa yang menamakan diri Forum Komunikasi Aktivis Masjid (FKAM) menggelar aksi solidaritas, tabligh akbar, dan penggalangan dana dengan long march dari Masjid Kotta Barat menuju Bunderan Gladak yang diakhiri orasi. Hari Selasa, 18 Juli 2006, giliran puluhan massa mahasiswa yang didominasi para wanita yang merupakan gabungan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) se Surakarta mengadakan aksi serupa dengan long march menempuh jalur Kampus UNS Mesen menuju Bunderan Gladak. Terakhir, seolah tak ingin kalah dari dua aksi sebelumnya, massa islam yang mengatasnamakan diri Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) se Kota Solo Raya juga mengerahkan puluhan massanya untuk mengadakan aksi yang serupa dengan dua aksi sebelumnya.
Secara sengaja, penulis ikut menyaksikan ketiga aksi solidaritas tersebut hingga merasakan suasana adrenalin yang memuncak ketika hentakan takbir merasuk jiwa. Namun, tak berlangsung lama kemudian penulis menyaksikan suasana sekitar dan sedikit merenungkan sesuatu.
Terlintas pikiran bahwa ternyata ada yang nggak beres di dalam aksi tersebut. Sebetulnya kesalahan bukan pada materi aksinya, tetapi lebih dari itu adalh pandangan masyarakat umum terhadap umat islam itu sendiri. Dari kejadian di atas bisa diambil kesimpulan bahwa ketiga aksi yang berlangsung tersebut adalah dilakukan oleh massa umat islam. Namun, masyarakat dan penulis pun bnerpikir mengapa setiap hari ada aksi serupa dari massa umat islam. Bukankah lebih efisien dan efektif apabila ketiga aksi tersebut bergabung menjadi satu aksi yang besar yang tidak hanya melibatkan ketiga kelompok tersebut saja tetapi juga kelompok massa islam yang lain yang “belum” mengadakan aksi. Penulis mengkhawatirkan aksi-aksi itu selain ditujukan untuk solidaritas kepada pejuang Palestina berefek negatif pada sikap fanatisme kelompok atau golongan diantara umat islam yang justru memecah belah kesatuan umat islam. Hal ini penulis ungkapkan bukan tanpa alasan. Di salah satu pamflet ajakan aksi dari salah satu kelompok massa tersebut tertulis kalimat yang bisa menimbulkan sikap fanatisme kelompok (ta’ashubiyyah) dan menjelekkan kelompok lain. Kalimat yang berbunyi “solidaritas palestina bukan hanya monopoli partai politik tertentu saja” adalah kalimat yang memojokkan kelompok islam tertentu dan bisa menyulut prmusuhan dan kebencian di antra jamaah islam. Padahal, perpecahan adalah sesuatu yang sangat dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya. Sesudah aksi tersebut berlangsung, seolah menjawab aksi sebelumnya, maka berlangsunglah aksi berikutny dan berikutnya dan mungkin akan muncul aksi dari kelompok yang tidak ingin ketinggalan lainnya. Situasi seperti inilah yang besar atau kecil akan bisa menimbulkan friksi dan gesekan serta perpecahan di kalangan jam’atul muslimin di Indonesia dan dunia mungkin. Padahal Allah menjelaskan bahwa umt islam hendaknya bersatu padu dalam mengahdapi makar kaum kafir.
……….
Dari uraian di atas maka bukankah bersatu lebih baik dari pada berpecah? Lalu, bukankah sikap menahan diri dari ghibah terhadap umat islam lain itu lebih baik? Dan bukankah sikap egoisme dan ta’ashub itu hrus ditinggalkan? Penulis mengharapkan kejadian yang berlangsung beberapa waktu yang lalu tersebut bisa dijadikn ibroh dan sarana muhasabah bagi umat islam dan ormas islam semuanya. Ketika ada kejadian yang menyengsarakan umat islam di kawasan belahan dunia lain, maka kelompok-kelopmpok islam harus segera berkomunikasi. Jangan hanya karena yang mengadakan aksi tertentu adalah bukan dari kelompok kita maka kita tidak mau ikut berpartisipasi di dalam aksi tersebut. Tetapi, kita justru langsung ikut berpartisipasi dan ikut larut sekalipun tanpa undangan dalam aksi yang diadakan oleh kelompok lain tersebut. Hal-hal seperti inilah yang nantinya akan mengikis sikap ta’ashub dan memupuk rasa ukhuwah islamiyah dan imaniyah yang sebenarnya.
Semoga aksi-aksi yang telah dilangsungkan oleh kelompok-kelompok islam selama ini benar-benar dilandasi rasa keikhlasan dan menghindarkan diri dari sikap ta’ashub yang sangat dibenci Allah dan Rasul-Nya. Dan semoga aksi umat islam yang belangsung secara estafet di solo beberapa waktu yang lalu juga hanya karena alasan fas tabikhul khoirot atau berlomba-lomba dalam kebaikan tanpa mengesampingkan keompok yang lain. (fikreatif)

WASIAT MUKHLAS DKK

Bissmillahirrakhmanirrakhim


RISALAH TAKLIMAT
(Pernyatan Sikap)

Kami beritahukan kepada kaum muslimin bahwa kami sedang menghadapi tiga pilihan, seluruhnya kebaikan bagi kami dan keburukan bagi musuh-musuh kami.

Pilihan pertama : Dibebaskan, karena dengannya, kami dapat meneruskan dakwah dan jihad kami, kami ingin mati syahid di medan laga dan tempur. Insyaallah.

Pilihan kedua : Dieksekusi, karena denganya kami akan bertemu dengan kekasih-kekasih kami, para nabi, shiddiqin, syuhada, shalihin dan hurun'in (bidadari) yang cantik jelita.

Pilihan ketiga : Penjara, karena denganya kami dapat berkhalawat dengan Allah Jalla Jajaluhu. Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah : 'apa yang dibikin musuh-musuhku padaku, aku surgaku dalam hatiku, dan temanku dalam dadaku, ke mana saja aku pergi, ia bersamaku. Aku penjaraku khaiwah (tempat beribadah), dan aku dibunuhku adalah mati Syahid, dan ia diusirku dari negeriku adalah siyahah (melancong) fie sabililah'.

Dan seandainya kami dieksekusi, maka cucuran dan tetesan darah kami-Insya Allah budznillah akan menjadi nur (cahaya lentera) bagi kaum mukminin, dan menjadi nar (neraka api penghangus) bagi kaum kafirin dan kaum munafiqin.

Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar
Mujahidin yindahbad, kafirin, munafiqin murdarbad
Khazabbnallah waniqmal wakiil, nikmal mauta, waniqmal nasyiir
Walhamdullilahi rabil 'alamin

Dari kami

tertanda

Ali Ghufron Imam Samudera Amrozi

Bumi Allah, Lapas Batu, Nusakambangan, Syaban 1428 H. (fikreatif)

SEBAB TERJADINYA MUSIBAH


Sebab-sebab Terjadinya Musibah dan Siksa Dunia Menimpa Manusia di Bumi

Di dalam al Quran, siksa dunia itu terjadi dikarenakan beberapa hal sebagai berikut:

1. Karena disebabkan oleh perbuatan orang itu sendiri.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ(41)

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Ruum (30): 41)

2. Karena disebabkan oleh dosa-dosa yang dilakukan oleh manusia. Alasan ini, ditujukan agar supaya manusia itu bisa kembali ke jalan yang benar.

وَقَالَ إِنَّمَا اتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا مَوَدَّةَ بَيْنِكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ثُمَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُ بَعْضُكُمْ بِبَعْضٍ وَيَلْعَنُ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَمَأْوَاكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ نَاصِرِينَ(25)

Dan berkata Ibrahim: "Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini kemudian di hari kiamat sebahagian kamu mengingkari sebahagian (yang lain) dan sebahagian kamu mela`nati sebahagian (yang lain); dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sekali-kali tak ada bagimu para penolongpun. (al Ankabut: 25)

3. Karena manusia mulai berfoya-foya (baca: hedonis).

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا(16)

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menta`ati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (al Isro’ (17): 16)

Alasan ini, ditujukan agar supaya manusia itu bersikap taat kepada Allah SWT secara lahir batin.

4. Karena dakwah tidak dijalankan maka terjadi musibah yang tidak mengenal siapa yang baik dan yang slah.

وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا أَخَذْنَا أَهْلَهَا بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَضَّرَّعُونَ(94)

Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri. (al A’raf: 94).

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ(25)

Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (al Anfal (8): 25).

5. Karena para wali-wali Allah mulai dimusuhi dan diberikan sebutan-sebutan yang buruk sebagaimana para nabi dahulu.

“Bila Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan mengujinya. Siapa ridho pada ujian-Nya maka Allah akan meridhoinya.” (fikreatif)

Peran Orang Tua dalam Pendidikan Dini Di Era Modern


Peran Orang Tua dalam Pendidikan Dini di Era Modern

بسم الله الرحمن الرحيم

Beberapa waktu yang lalu, kita mendengar berita tentang seorang anak laki-laki SMP yang memperkosa tetangganya yang masih SD. Belum selesai mulut kita termangu menyaksikan dan mendengar berita mengejutkan itu kita kembali mendengar berita bahwa seorang anak SD “berhasil” memperkosa temannya. Mungkin sebagian besar diantara kita telah mendengar berita-berita “basi” tersebut. Bukan basi atau tidaknya yang menjadi masalah tetapi sesungguhnya kita telah dihadapkan pada sebuah “batu raksasa yang menggelinding di depan muka kita”. Artinya kita sekarang sedang menghadapi sebuah masa yang penuh dengan ujian, cobaan, dan fitnah. Sempat terlintas dalam pikiran penulis dan mungkin pikiran Ibu / Bapak bahwa bagaimana mungkin anak SD bisa tahu hal-hal yang seperti itu. Namun, faktanya itu terjadi.

Dekadensi moral yang terjadi di negara ini ternyata benar-benar merasuk jiwa bangsa ini. Iblis-iblis seakan-akan hijrah dari neraka menuju bumi Indonesia ini. Dalam kasus-kasus seperti yang diketengahkan di atas, semuanya hampir kompak menyebutkan bahwa latar belakang mereka melakukan perbuatan itu (baca: pemerkosaan) adalah diawali dengan melihat, menonton, menyaksikan gambar, foto, atau video porno. “Anak SD sudah bisa melihat film blue (film porno)?”pikir penulis. “Ya wajar ajalah, jangankan kok nonton VCD, di televisi saja banyak kita jumpai adegan yang menjurus ke arah porno.” Gumam penulis.

Belum selesai penulis beranjak dari keterheranan penulis akan hal itu, penulis melihat dan menyaksikan di layar televisi dengan mata kepala penulis sendiri bahwa pemerintah melalui TELKOM akan memfasilitasi dan membangun jaringan internet di seluruh Indonesia khususnya di wilayah pedesaan dan kalangan siswa SD dengan menyediakan 70.000 jaringan komputer. (kalau tidak salah). Lantas, kalau memang ada internet bantuan pemerintah untuk anak SD dan pedesaan, trus kenapa? Mungkin begitu pikir kita. Apa hubungannya? Bukankah Internet tidak haram laksananya babi yang sudah jelas diharamkan Allah SWT?

Memang benar, internet tidak haram sejauh yang penulis ketahui. Bahkan, mungkin akan menjadi wajib (fardhu kifayah) bagi orang Islam untuk mempelajarinya jika memang besar manfaatnya sementara belum ada orang Islam yang mampu menguasai teknologi internet itu. Namun, permasalahannya bukan di sisi halal atau haramnya. Lebih dari itu, penulis ingin mengajak ibu-ibu dan bapak-bapak benar-benar mempersiapkan putera-puterinya agar terbentengi dengan kekuatan iman yang kuat. Internet adalah satu-satunya media (barangkali) yang bisa melihat dunia hanya dari tempat duduk di depan layar monitor komputer sesuai dengan keinginan kita. Intinya kita “bebas” untuk berbuat apa saja di internet. Kita bisa berkomunikasi, mencari berita, menghina, berkomentar, mengkritik dan lain-lain samapai-sampai hal yang tabu untuk dilihat-pun bisa dilihat di sana “kalau mau”. Dan, Internet tidak mengenal umur.

Nah, dengan gambaran-gambaran tersebut penulis ingin mempertajam pembicaraan secara lebih mendalam. Dari beberapa ilustrasi kisah di atas, saat ini kita khususnya para orang tua yang memiliki putera-puteri dan calon orang tua yang kelak akan mempunyai anak juga benar-benar dihadapkan pada suatu ujian yang besar dari Allah. Pada suatu saat nanti, sangat mungkin setiap rumah akan memiliki internet dan anak-anak SD akan memahami internet. Kalau hal tersebut sudah terjadi, bisa saja mereka mengoperasikan atau mengakses Internet semau mereka. Ketika mereka tidak diperkuat dengan kekuatan iman yang kuat, sangat mungkin mereka akan mengawali penjelajahan di dunia maya itu dengan mengakses situs-situs dan gambar-gambar porno. Dan yang akan menjadi petaka adalah ketika kelak semua orang akan menganggap hal tersebut sebagai suatui hal yang biasa maka sangatlah wajar nantinya banyak terjadi pemerkosaan, free sex, dan perbuatan-perbuatan yang merusak nilai-nilai islam, agama, dan moral. Penulis teringat akan suatu hadits:

عن أبي هريرة رضي الله عنه: قال النبيّ( ص م ) ما من مولود الاّ يولد على الفطرة , فأبواه يهوّدانه, او ينصّرانه, او يمجّسانه, كما تنتحّ البهيمة جمعاء هل تحسّون من جدعاء؟ (رواه البخاري)

“Dari Abu Hurairah, dia menceritakan, bersabda nabi SAW: Tiada anak yang dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia kafir Yahudi, Nasrani, atau Majusi seperti halnya seekor binatang ternak melahirkan anaknya dengan sempurna, apakah kau dapati kekurangannya?” (HR. Buhori)

Dari dalil hadits di atas kita juga bisa menambahkan keterangan tambahan bahwa anak itu adalah amanah dari Allah yang juga harus kita pertanggungjawabkan. Lebih-lebih terhadap apa-apa yang mereka lakukan ketika masih kecil atau belum baligh. Bagi seorang guru, maka murid SD adalah bagian dari tanggung jawabnya untuk dididik beragama. Dan tidak hanya bagi guru saja tetapi bagi setiap profesi yang tentunya memiliki konsekuensi yang sama pada prinsipnya.

اكرموا أولادكم واحسنوا أدابهم, فانّ أولادكم هديةٌ اليكم (رواه ابن ماجة)

Hormatilah anak-anakmu sekalian dan perbaikilah pendidikan mereka, karena anak-anakmu sekalian adalah karunia (Allah) kepadamu sekalian.” (HR. Ibnu Majah)

Sebagai orang tua tentunya tidak akan pernah ada yang mengharapkan putera-puterinya menjadi orang jahat, menjadi maling, atau yang semisalnya. Akan tetapi semua pasti akan menginginkan anak-anaknya menjadi orang yang sholih, orang yang baik, orang yang sukses meskipun orang tuanya adalah penjahat. Dan sungguh indah perkataan Nabi SAW dalam hadits ini:

اذا مات ابن ادم انقطع عمله الا من ثلاث: صدقة جاريّة او علم ينتفع به, او ولد صالح يدعوله (رواه مسلم عن ابى هريرة)

Apabila anak Adam (manusia) itu mati, maka amalnya terputus semua kecuali tiga perkara yaitu shadaqah jariyah, ilmu yang manfaat, atau anak sholeh yang mendo’akannya.” (HR. Muslim)

Kata yang tercetak tebal sengaja penulis sorot. Hampir tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya tidak sholeh. Namun, menjadikan anak sebagai seorang sholeh bukanlah tugas tangan saat membolak-balikkannya. Perlu proses yang panjang dalam mendidik anak. Sebagaimana juga tidak ada orang yang bisa membangun jembatan layang tanpa pernah mengerti perhitungan 2+2=4. Di sinilah peran orang tua yang juga ikut serta dalam mengarahkan puter-puterinya menuju gerbang kesholehan.

Di sini, saat ini, dan sekarang ini-lah agama benar-benar memainkan peranan yang sangat penting dalam menghadapi modernisasi dunia. Maka tidak salah apabila Islam menjadi satu-satunya agama yang paling sempurna dan sangat sempurna. Terbukti rasulullah SAW pun juga memberikan amanah kepada kita agar mengajari anak-anak kita untuk mengenal agama yang dalam hadis berikut disimbolkan dengan pengajaran Sholat..

مروا أولادكم بالصلاة وهم أبناء سبع سنين, واضربوهم عليها وهم أبناء عشرسنين, و فرّقوا بينهم في المضاجع (رواه ابو داود)

Perintahkanlah anak-anakmu sekalian shalat pada waktu mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka karena meninggalkan shalat, padahal mereka telah berumur sepuluh tahun, dan pisah-pisahkan tempat tidur di antara mereka.” (HR. Abu Daud_hadis hasan).

Solusi Menghadapi Kedahsyatan Globalisasi:

  1. Berpegang teguh pada ajaran Islam (al Quran dan As Sunnah)

عن مالك رحمه الله تعالى انه بلغه أنّ رسول الله ص م قال: تركت فيكم أمرين لن تضلّوا ما تمسّكتم بهما كتاب الله و سنّة نبيّه

Dari Malik rahimahullah ta’ala bahwa telah sampai kabar bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Aku tinggalkan di tengah kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selagi berpegang pada keduanya, yaitu: kitab Allah (Al Quran) dan Sunnah Nabi-Nya.

  1. Berdo’a mengharap rahmat Allah SWT.

حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِي إِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ هُمْ خَيْرٌ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ مِنِّي شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً *

Abu Hurairah r.a berkata: Rasulullah s.a.w bersabda: Allah s.w.t berfirman: Aku adalah berdasarkan kepada sangkaan hambaKu terhadapKu. Aku bersamanya ketika dia mengingatiKu. Apabila dia mengingatiKu dalam dirinya, nescaya aku juga akan mengingatinya dalam diriKu. Apabila dia mengingatiKu dalam suatu kaum, nescaya Aku juga akan mengingatinya dalam suatu kaum yang lebih baik daripada mereka. Apabila dia mendekatiKu dalam jarak sejengkal, nescaya Aku akan mendekatinya dengan jarak sehasta. Apabila dia mendekatiKu sehasta, niscaya Aku akan mendekatinya dengan jarak sedepa. Apabila dia datang kepadaKu dalam keadaan berjalan seperti biasa, nescaya Aku akan datang kepadanya dalam keadaan berlari-lari anak *

  1. Menanamkan anak-anak dengan pendidikan agama islam dengan aqidah yang benar (aqidah ahlu sunnah wal jamaah).
  2. Mengiring remaja muslim dalam berperilaku islami.
  3. Menggalakkan kajian-kajian islam yang sesuai syariat islam (al Quran dan as Sunnah) dan bebas dari bid’ah.

Penutup

Sebagai penutup rangkaian kata-kata di atas, penulis berpesan bagi diri penulis khususnya dan kepada saudaraku seagama:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا () وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا ()

"Hai orang-orang yang beriman, perbanyaklah berzikir (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (Al Ahzab: 41-42)

Kebenaran berasal dari Allah dan apabil ada kekurangan maka semua itu semata-mata karena penulis yang fakir akan ilmu dan bergelimang akan dosa. Penulis beristighfar atas kesalahan-kesalahan yang penulis buat. Akhirul kalam. Wallahu a’lam bishhowab. (Fikreatif)

Bumi Allah yang penuh Rahmat-Nya, 22 Rabi’ul Akhir 1427 H

20 Mei 2006

Sekilas Profil FPIS

(Sekilas Profil Front Pemuda ISlam Surakarta_Sebuah Laporan Reportase Lapangan)

Islam Bersatu

Tak Bisa Dikalahkan

Isy Kariman

Au Mutsyahidan

Demikianlah yel-yel itu terdengar pertama kali oleh masyarakat Solo pada tahun 1999 setelah pendeklarasian Front Pemuda Islam Surakarta (FPIS) di masjid jami’ Gumuk yang kemudian menjadi markas besar mereka. Pada awalnya, organisasi tersebut didirikan oleh enam tokoh serta didukung oleh PPP (salah satu dari tiga parpol waktu itu).

Ada enam orang pendiri FPIS termasuk dari PPP waktu itu,” kata Ust. Cholid Hasan, ketua majelis syuro FPIS saat ini.

Berdirinya FPIS dilatarbelakangi oleh terjadinya kerusuhan Ambon yang pertama tahun 1999. Tujuan didirikannya FPIS pada waktu itu adalah untuk membantu kaum muslimin yang teraniaya dan tertindas, khususnya di Ambon. Bentuk bantuan-bantuan tersebut antara lain berwujud obat-obatan, bahan makanan, selimut, dan bahkan mereka juga mengirimkan bantuan tim medis serta pasukan yang sudah terlatih.

“Maka Front Pemuda Islam Surakarta itu berdiri pada tahun 1999 ketika kerusuhan Ambon muncul pertama kali”, begitu ujar Ust. Cholid Hasan, ayah dari empat orang putera ini.

“Disamping kita mengirim obat-obatan, kita juga mengirimkan tim dokter dan pasukan serta perlengkapan logistik lain yang dibutuhkan di sana,” tambah Ustadz yang berusia 53 tahun tersebut.

Dalam perkembangan selanjutnya, FPIS -yang didukung oleh masjid-masjid di sekitar wilayah karesidenan Solo- memfokuskan pada pembelaan kaum muslimin yang teraniaya, baik muslimin Indonesia, maupun dunia. Peranan itu mereka jalankan pada kasus penangkapan Ust. Abu Bakar Ba’asyir, invasi Amerika Serikat terhadap pemerintahan Taliban di Afganistan, invasi Amerika Serikat ke Irak, pembelaan muslimin Ambon yang tertindas, dan pembelaan muslimin di Poso. Tentu saja, bentuk pembelaan itu bersifat terbatas pada kemampuan FPIS itu sendiri. Mereka hanya membantu sebisa mereka saja. Tak hanya itu saja, aksi mereka juga terlihat dalam usaha mendukung penerapan UU SISDIKNAS dan pemberantasan tempat-tempat perjudian dan maksiat di Solo.

Yang terakhir ini, memberantas perjudian dan tempat-tempat maksiat, biasanya hanya dilakukan ketika mendekati bulan Ramadan. Seringkali hal tersebut membuat FPIS bersitegang baik dengan para preman-preman judi maupun dengan aparat kepolisian.

FPIS sendiri dalam perjalanannya, selalu mengadakan pembinaan-pembinaan dan taklim-taklim serta pembekalan-pembekalan mental kepada seluruh anggotanya. Sedangkan dana operasional organisasi diperoleh dari infaq anggota dan sumbangan perseorangan atau institusi.

“Sumber dana itu sendiri yang paling utama adalah berasal dari anggota sendiri”, jelas Ustadz yang ternyata jebolan Ekonomi IKIP Surakarta.

Dia juga menambahkan,“FPIS sering mengirim massa 2 sampai 5 bus dari Solo ke Jakarta dengan biaya dari jamaah itu sendiri.”

Dalam catatan mereka, sebenarnya FPIS memiliki sebuah kisah yang menarik perhatian masyarakat Solo dan sekitarnya. Sehingga kisah itu berimplikasi positif terhadap masyarakat Solo. Peristiwa itu terjadi sewaktu pemilihan presiden RI tahun 1999 oleh MPR yang akhirnya dimenangkan oleh Gus Dur. Hal itu mengakibatkan kemarahan ribuan bahkan puluhan ribu massa pendukung Megawati yang kemudian membuat kerusuhan di Solo. Melihat banyak dan beringasnya massa perusuh, membuat aparat keamanan yang dalam hal ini adalah pihak kepolisian tidak mampu dan tidak berani menghalau massa yang membakar Gedung Balai Kota Surakarta. FPIS yang terdiri dari ratusan pemuda berusaha memberikan kekuatan moral pada masyarakat yang sebelumnya diliputi perasaan takut dan mencekam untuk berani melawan para perusuh yang berjumlah ribuan. Usaha itu berhasil membuat kocar-kacir ribuan perusuh tatkala kedua massa tersebut bertemu di depan perempatan hotel Novotel Solo. Peristiwa besar itu membuat FPIS disegani oleh masyarakat Solo, khususnya warga keturunan Tiong Hoa. Sehingga kini, apabila ada peristiwa-peristiwa genting di wilayah Solo, banyak yang mengharapkan kehadiran FPIS untuk memberikan rasa ketenangan. Penilaian positif itu juga ditambah dengan aksi unjuk rasa mereka yang selalu tertib dan tidak pernah ada bentrokan-bentrokan yang berarti.

Kini maraknya isu-isu yang beredar di Solo yang mengatakan bahwa kerusuhan pasca pemilihan presiden RI tahun 1998 akan kembali terulang kelak pasca pemilihan presiden sangat santer terdengar. Masyarakat kota Solo yang masih trauma terhadap kerusuhan tersebut tentunya tak bisa berharap banyak. Mereka hanya berdoa dan berharap bahwa kerusuhan tidak akan terjadi. Namun bila kerusuhan itu terjadi, maka mereka akan menyerahkannya kepada pihak kepolisian untuk meredamnya. Lalu bagaiman dengan FPIS, apakah mereka akan kembali beraksi ? Dan bagaimana langkah-langkah mereka selanjutnya ? Wallahu a’lam. Yang jelas, masyarakat Solo dan tentunya FPIS itu sendiri juga tidak mengharapkan adanya kerusuhan akan terjadi.

Marilah kita tunggu aksi-aksi positif FPIS selanjutnya. (fikreatif_dkk)

MEMBANGUN DAN MEMBENTUK KUALITAS KEISLAMAN

MEMBANGUN DAN MEMBENTUK KUALITAS KEISLAMAN

Apa itu Islam?

Menurut suatu riwayat, ada sekelompok kaum Yahudi menghadap kepada Rasulullah SAW hendak beriman, dan meminta agar dibiarkan merayakan hari Sabtu, dan mengamalkan Kitab Taurat pada malam hari. Mereka menganggap bahwa hari Sabtu adalah hari yang mulia untuk dirayakan, dan Kitab Taurat adalah kitab yang diturunkan oleh Allah juga. Maka turunlah ayat dari Allah yang menolak permintaan kaum Yahudi tersebut dengan ayat:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِين

(البقرة : 208)

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. *(Asbabun Nuzul latar belakang historis turunnya ayat-ayat al Quran, c.v. Diponegoro1975, hal.66)

Islam sendiri secara bahasa berasal dari kata aslama-yuslimu yang berarti menyerahkan. Kata tersebut bentukan dari salima, yang berarti selamat. Lalu lahir pengembangan kata baru seperti istislam (menyerahkan diri), salaam (yang berarti sejahtera), silm (yang berarti damai), dan sullam (yang berarti tangga).

Sedangkan menurut istilah Islam adalah ketundukan kepada kepada wahyu Ilahi yang diturunkan kepada para nabi dan rasul, khususnya Muhammad SAW, sebagai hukum atau aturan Allah SWT yang membimbing umat manusia ke jalan yang lurus menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. *(Di Bawah Naungan Cahaya Ilahi, Nurulhuda Press, 2003 hal. 79)

Rasululah sendiri memaknakan Islam dengan :

“Islam adalah bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, dan mendirikan shalat, menunaikan zakzt, puasa di bulan Ramadhan, dan haji ke Baitullah bagi yang mampu di jalannya.” (dikeluarkan oleh Imam hadits yang lima, kecuali Imam Buhori)

Satu lagi pendapat G. Bernard Shaw dalam The Genuine Islam, (Vol. I No. 81936) tentang Islam. “Islam merupakan satu-satunya agama yang memiliki kapasitas penyesuaian terhadap perubahan fase kehidupan, yang membuatnya menarik untuk segala usia. Bila Islam berhasil menjadi diktator dunia modern, maka Islam akan berhasil menyelesaikan masalah-masalah dunia modern dan dapat memenuhi kebutuhan akan kedamaian dan kebahagiaan.” *(Ibid; hal. 81)

Pada intinya, menurut penulis, Islam adalah sebuah dien. Bahkan dalam firman-Nya disebutkan bahwa al Islam, sekarang, adalah satu-satunya agama yang diridhoi oleh Allah. Sedangkan agama-agama samawi lainnya , yakni Nasrani dan Yahudi telah berubah isinya dan tidak sesuai dengan keasliannya. Islam adalah jalan menuju puncak segala puncak. Islam mengatur hal-hal di segala bidang baik itu hubungan manusia dengan Allah, hubungan antar manusia, dan hubungan manusia dengan lainnya. Ajaran Islam sendiri dalam sejarahnya ,dari Rasullullah sampai kini, tidak dan tidak akan pernah berubah. Islam tidak bertambah dan berkurang ajarannya karena ajaran Islam adalah sesempurna-sempurnanya agama. Hanya saja pengetahuan, pemahaman, dan kecerdasan seseorang tentang Islam mungkin terbatas; sehingga membatasi pula kualitas keimanan keislaman seseorang.

Mengapa kita perlu membangun dan membentuk kualitas keislaman?

Kualitas keislaman seringkali disebut pula dengan kualitas keimanan. Sedangkan keimanan pada individu bisa naik dan nisa pula turun. Sebagai misal, ketika kita sedang berada dalam lingkungan yang baik dan dalam keadaan mood yang baik, mungkin keimanan kita berada dalam tingkat yang tinggi pula. Namun, bila sebaliknya, bila kita sedang dalam mood yang jelek, mungkin tingkat keimanan kita sedang dalam tingkatan rendah. Seperti halnya ibarat seorang pendaki yang berjalan ke puncak sebuah gunung. Dalam menggapai angan itu, dia tentunya tidak selalu memperoleh kemulusan. Namun, kadang ia harus melewati tebing, jurang, sungai, pohon yang tumbang, padang pasir, rawa, padang ilalang, atau apapun yang bisa menghambat perjalanannya. Oleh karenanya, ia seharusnya telah mempersiapkan segala sesuatunya sebelum berangkat baik itu persiapan mental, fisik, peralatan, dan bekal tentunya. Demikian pula Islam, orang beragama memiliki motivasi yang bermacam-macam. Ada yang karena memang keyakinan, karena untuk perlindungan bisnis, karena terpaksa, karena untuk menikah, karena orang tua, dan karena beribu alasan lainnya. Namun pada dasarnya hampir semua pemeluk agama memiliki keyakinan bahwa mereka beragama karena ada keyakinan bahwa setelah mati mereka akan hidup di surga bagi yang di dunianya berbuat baik.

Karena motivasi itulah maka Rasulullah memberikan nasihat pada umatnya untuk selalu menjaga keimanan. Rasullullah mengatakan bahwa orang muslim yang baik adalah orang yang hari esoknya lebih baik dari hari yang kemarin. Dari sini, penulis dapat menyimpulkan bahwa Rasulullah memberi nasihat untuk selalu menjaga iman bahkan meningkatkan keimanan secara terus menerus. Hal itu sesuai dengan ayat di atas tadi ( al Baqarah: 208) bahwa dalam berislam kita harus menyeluruh. Menyeluruh di sini otomatis memiliki korelasi dengan peningkatan keimanan. Logikanya tidak mungkin orang beragama islam langsung mengetahui dan memahami 100% ajarannya. Dia perlu tahap-tahap untuk mengetahui keseluruhannya. Dan dalam proses tersebut, tentunya perlu didukung dengan peningkatan keimanan pula.

Bagaimana membangun dan membentuk kualitas keislaman?

Sekarang marilah kita lihat masa kini dimana kita bisa melihat banyak sekali orang yang pemahamannya tentang Islam kurang. Sehingga otomatis kualitas keislamannya kurang pula. Ada sebagian diantara kita yang melihat kualitas keislaman seseorang melalui tampilan dhohir (luar)nya saja. Kalau orang memakai gamis dan peci atau sorban maka ia dikatakan kyai atau orang yang kualitas Islamnya bagus. Padahal nabi mengatakan bahwa “iman itu di hati” jadi yang mengetahui iman itu hanya dia dan Allah. Namun, rasulullah juga memberi sedikit gambaran. Bahwa orang yang disipilin dalam ibadah dan orang yang memiliki akhlak yang baik maka itu adalah sebagian dari cerminan iman dan Islam yang berkualitas.

Disamping itu masih banyak penyimpangan-penyimpangan yang menurut penulis adalah penyimpangan yang telah besar. Yaitu, ajaran sekuler yang memisahkan agama dengan kehidupan dunia. Dalam bahasa sederhananya penulis mengatakan bahwa agama itu hanya di tempat ibadah dan hanya urusan individu dengan Tuhannya. Sedangkan dalam pergaulan keseharian mereka meninggalkan ajaran agama itu sendiri. Hal ini menurut penulis disebabkan rendahnya kualitas keislaman dan keimanan inividu itu sendiri.

Lalu bagaimana kita membangun dan membentuk kualitas keislaman kita?

Karena pada dasarnya kekurangan mereka adalah buruknya pondasi iman dan Islam yang mereka miliki, maka hal yang pertama kali harus ditata adalah pondasinya terlebih dahulu. Bangunan yang kuat adalah bangunan yang didirikan di atas pondasi yang kuat pula. Iman adalah pondasinya. Mereka diharapkan tidak hanya mengetahui tentang rukun iman yang 5 saja, tetapi lebih dari itu mereka harus ditanamkan perasaan untuk menjiwai apa sebenarnya yang terkandung dalam rukun iman itu semuanya dan memahami cabang-cabangnya. Sehingga kita mengharapkan dalam hati mereka tercermin karakter yang kuat sesuai dengan Islam. Dalam realitasnya, kita bisa menanamkan tujuan itu dengan tarbiyah seperti halnya yang dilakukan di perguruan tinggi-perguruan tinggi di Indonesia yang melakukan kegiatan mentoring atau assistensi, menggerakkan gerakan dakwah yang kompak, meningkatkan diskusi-diskusi global yang berkorelasi dengan agama.

Faktor kedua adalah tiang dari bangunan harus kuat. Dalam hal ini tiang agama adalah sholat. Sedangkan sholat adalah bagian dari rukun Islam. Maka proses kedua adalah menegakkan tiang-tiang agama atau rukun Islam. Seorang muslim hendaknya tidak hanya menganggap rukun-rukun Islam sebagai rutinitas belaka. Hal ini sangat mungkin terjadi pada diri individu seorang muslim. Kita menganggap bahwa syahadat, sholat, puasa, zakat, dan haji adalah sesuatu yang wajib dalam rutinitas ritual ibadah biasa, sehingga dalam pelaksanaannya bentuk kegiatan ibadah tersebut sangatlah miskin akan nilai spiritual dan makna. Seharusnya kita mulai menyadari hal ini. Kita harus memaknai syahadat adalah sebuah ikrar janji kepada Allah dan Muhammad untuk selalu tunduk dalam aturan Islam. Sholat adalah sarana muhasabah, harapan, dan sarana komunikasi dengan Allah. Dan pada intinya kita harus menanamkan kepada diri kita bahwa ritual ibadah itu bukan sekedar ritual, melainkan lebih dari itu terdapat makna yang besar di balik semua hal tersebut.

Apabila hal-hal yang mendasar di atas sudah tertanam, maka hal ketiga yang harus dibangun adalah membuat atap pelindung untuk menyempurnakan fungsi bangunan itu. Dalam hal ini sangatlah penting kiranya kita menambah makna hidup secara umum dengan memunculkan nilai-nilai Islami dalam pergaulan umum. Secara umum, orang menganggap kualitas seseorang itu dari akhlak, intelektual, dan kebaikannya. Jadi, sesuai dengan prinsip Islam yang rahmatan lil alamin, seorang muslim harus mampu mentransformasikan sunnah Rasul dan ajaran Islam dalam pergaualan umum. Nilai-nilai Islam atau ajaran Islam yang dimaksud di sini antara lain sikap-sikap kedisiplinan dalam segala hal, kesopanan, kerajinan, kesungguhan, dan nilai–nilai Islami lainnya. Dan penulis menganggap bahwa sifat yang paling penting adalah sifat seorang mujahidin dan muhlisin. Mujahidin di sini dirtikan sebagai seorang yang selalu bekerja keras dan bersungguh-sungguh dalam segala aspek kegiatan. Sedangkan muhlisin adalah sifat seseorang yang dalam setiap kegiatan sehari-harinya didasarkan selalu karena Allah. Sehingga dari dua sifat ini saja, seumpanya kita mengambil contoh seorang anggota dewan legislative, kita bisa melihat betapa hebatnya seseorang itu. Bila dua sifat itu diterapkan maka seorang anggota legislatif akan selalu hadir dalam setiap sidang, memperhatikan suara rakyat keseluruhan, membela hak rakyat, menolak nepotisme, tidak korupsi, dan mengurangi tidurnya di malam hari karena ia memiliki jiwa mujahid sebagaimana dicontohkan Rasul SAW dan para Khulafaur Rasyidin. Bahkan ia justru akan selalu berdoa, sholat, dan puasa untuk mengharapkan petunjuk Allah SWT.

Hal-hal tersebut sebetulnya dapat kita lihat sejarahnya dalam kisah para Nabi, sahabat, dan tabi’in. Ada juga teladan itu terletak pada ilmuwan-ilmuwan muslim yang berpengaruh dalam pengetahuan modern di dunia. Sebut saja Ibnu Syina, Ibnu Khaldun, Ibnu Rusyd, dan Ibnu Bathutah yang tidak hanya seorang ahli ilmu tapi juga paham akan keislaman. *(Dialog Jumat, H. U. Repubika, edisi 3 September 2004)

Kesimpulan

Kualitas keislaman seseorang pada dasarnya bervariasi tergantung sejauh mana pemahaman individu itu sendiri memaknai Islam menurut Al quran dan Sunnah Rasul. Akan tetapi, di dalam meningkatkan, membangun, dan membentuk kualitas keislaman di dalam masyarakat perlu kiranya melalui proses yang panjang dan bertahap. Hal tersebut dikarenakan kualitas keislaman secara umum masyarakat masih terbatas. Oleh karena itu, menurut penulis bahwa hal-hal yang dipandang penting untuk membentuk dan membangun kualitas keislaman adalah penanaman karakter pondasi iman yang kuat, pemahaman konsep-konsep rukun Islam dan rukun iman, serta pengenalan nilai-nilai Islam yang diteladankan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat serta orang-orang saleh sesudah mereka. Kualitas keislaman seseorang tidak akan pernah terbangun apabila diterapkan hal-hal yang bersifat semu dan kamuflase atau kebidahan dalam pengusahaannya. Karena pada dasarnya, penyimpangan meski hanya 1 derajat dalam melangkahkan kaki untuk pertama kalinya dalam menuju sebuah tempat adalah sebuah kesalahan yang sangat fatal, karena garis yang telah melenceng meski satuu derajat tidak akan pernah kembali lurus bahkan justru semakin menjauh. (Fikreatif)

MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH DI BUMI

MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH ALLAH DI BUMI

(PENGOPTIMALISASIAN PERAN MANUSIA)

PROSES PENCIPTAAN MANUSIA

Al Quran menguraikan reproduksi manusia. Ketika berbicara tentang penciptaan manusia pertama kalinya, al Quran menunjukkan:

“Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah” (QS Shad[38]; 71)

Tetapi ketika berbicara tantang reproduksi maka secara umu Al Quran menunjukkannya dengan bentuk jamak “Kami”. “Kami” di sini dimaksudkan sebagian ulama dengan adanya campur tangan manusia dalam penciptaan manusia setelah Adam dan Hawa. Yaitu, di dalam proses kelahiran seseorang tidaklah lepas dengan peranan laki-laki dan perempuan yang melakukan hubungan sehingga bertemu antara sperma dan sel telur.

POTENSI MANUSIA

Potensi manusia antara lain tergambar dalam kisah Adam dan Hawa dalam surat Al Baqarah: 30-39. Di sana disebutkan bahwa sebelum kejadian manusia. Allah telah merencanakan manusia kelak akan memikul tanggung jawab sebagai khalifah di bumi. Untuk tujuan itu maka Allah memberikan anugerah lain selain jasmani dan ruh yaitu:

  1. potensi untuk mengetahui nama dan fungsi benda
  2. pengalaman hidup di surga oleh Adam dan Hawa
  3. petunjuk-petunjuk keislaman

(Quraish Shihab, M, Wawasan Al Quran, Mizan, Bandung, 1996)

KEISTIMEWAAN MANUSIA

Pertama manusia adalah sebaik-baik makhluk dalam penciptaan. Demikian yang tersurat dalam At tin: 4

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”

Manusia mempunyai kelebihan otak yang digunakan untuk berpikir, diberikan hati untuk perasaan, belum lagi anggota badan secara umum seperti kepala, tangan, kaki, dan perut. Semua itu adalah kelebihan fisik yang begitu besar manfaatnya.

Kedua, manusia diberikan kelebihan sebagai satu-satunya makhluk yang bisa menyerap ilmu sewkaligus mengembangkannya. Hewan hanya memiliki insting, jin tak dapat mengembangkan ilmu, malaikat hanya melaksanakan perintah Allah tanpa berpikir, dan setan menggunakan logika yang salah dengan mengatakan bahwa api lebih mulia dibanding dengan tanah.

OPTIMALISASI KEMAMPUAN

Optimalisasi kemampuan tercermin dalam pemanfaatan kemampuan dari manusia itu sendiri terhadap potensi-potensi yang dimilikinya. Manusia diberikan kelebihan fisik tersebut guna memasimalkan tugas kekhalifahan di bumi. Dengan otak manusia diharapkan kehidupan di bumi secara umum dapat berkembang dengan baik dan terjaga dari kerusakan. Dengan tangan, manusia diharapkan memiliki kemampuan mencipta, dalam arti memnafaatkan potensi sumber daya dari Allah. Dengan lisan manusia diharapkan memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Dari hal-hal tersebut di atas maka jelaslah bahwa optimalisasi kemampuan tercermin dari optimalisasi potensi materi yang dimiliki oleh manusia dari Allah. Sekarang kita bisa melihat hasilnya yaitu dengan adanya kapal, pesawat terbang, motor, mobil, dan teknologi lainnya yang dapat dimanfaatkan untuk kemashlahatan makhluk- manusia, hewan, dan tumbuhan.

OPTIMALISASI NILAI-NILAI KEILAHIYAHAN

Allah memiliki nama-nama yang baik (asmaul husna). Nama-nama tersebut bukanlah hanya sebagai nama begitu saja. Akan tetapi, nama-nama tersebutr adalah sebagai nilai keilahiyahan bagi manusia yang mengamalkannya. Artinya, tujuan kekhalifahan manusia di bumi akan tercipta dengan baik apabila menerapkan 99 sifat Allah yang terefleksikan dalam kehidupan manusia di bumi. Sebagai missal, Ar Rohmaan yang Maha Pengasih. Manusia diharapkan mampu meminkan peranannya sebgai khalifah di bumi dengan menerapkan kasih sayang terhadap seluruh makhluk. Tidak ada perang, tumbuhan tumbuh dengan suburnya ( sebagai perumpamaan: tak ada daun-dedaunan yang jatuh ke tanah sebelum waktunya –sebelum menguning atau cokelat-), binatang bisa berkembang biak dengan baik (kata Umar r.a.: Tidak ada lembu yang jatuh atau terpeleset karena berjalan di atas jalan yang rusak akibat ulah manusia ), batu dan gunung merasakan kesejukan suasana pegunungan yang segar tanpa terdengar suara mortir; tanpa menahan panas api yang membakar; dan tanpa merasakan panas oleh terik matahari yang menerawang masuk menusuk langsung akibat sudah tidak ada selimut hutan di tubuhnya.

OPTIMALISASI PENGELOLAAN ALAM SEMESTA

Sesungguhnya semua fasilitas yang sudah tersedia di dunia secara gratus seperti tumbuhan, binatang, angin, udara, air dan apapun adalah untuk manusia. Tentunya hal tersebut dimaksudkan untuk membantu kekhalifahan manusia di bumi. Allah berkali-kali mengatakan bahwa dalam melakukan sesuatu hal, janganlah pernah melampaui batas. Artinya manusia harus bisa berlaku normal sebagaimana adanya. Allah mengatakan bahwasanya potensi-potensi alam itu tidak akan pernah habis tetapi hal tersebut berlaku apabila manusia memnafaatkan dengan sewajarnya. Namun, kejadian sekarang ini, akibat pengaruh industrialisasi, seluruh potensi alam hampir habis di serap untuk kepentingan manusia tanpa berpikir baik buruknya sehingga terjadi ketidakseimbangan dalam ekosistem. Sesungguhnya hal tersebut tidak harus terjadi apabila manusia taat dan patuhpada perintah Allah. Janganlah melampaui batas.

Optimalisasi alam bukanlah dengan tindakan mengeruk sebanyak-banyaknya potensi alam semesta. Akan tetapi, optimalisasi sebenarnya dimaksudkan untuk mengatur semaksimal mungkin perihal pengelolaan alam. Sehingga tidak terjadi ketidakseimbangan ekosistem. Hutan tidak akan habis hanya oleh karena alasan industrialisasi atau perluasan masalah tempat tinggal. Dengan potensi otak manusia telah diberi akal untuk berpikir bagaimana menyeimbangakan segala potensi kehidupan dan alam semesta.

OPTIMALISASI PERAHMATAN LIL ALAMIN

“Dan tidaklah Kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam” (Al Anbiya’ : 107)

“Sesungguhnya aku (Muhammad) diutus (oleh Allah) untuk menyempurnakan akhlak” (al Hadits)

Manusia dipikuli tanggung jawab yang begitu besar yakni sebagai rahmat semesta alam. Keadaan ini tentunya sngatlah kontras dengan fakta dan realita yang terjadi saat ini di bumi. Manusia yang diperankan oleh kaum Yahudi dengan Israel dan Amerikanya telah membuat kerusakan yang bebitu besarnya di muka bumi ini. Mereka tidak hanya membuat kecacatan pada manusia tapi lebih dari itu mereka menghancurkan bumi dengan bom nuklirnya di Hiroshima dan Nagasaki yang membuat jutaan manusi, hewan dan tumbuhan mati sia-sia.

Sesungguhnya yang berhak memanggul gelar ataupun tanggung jawab sebagai khalifah di bumi seharusnya adalah orang muslim yang baik, yang bertakwa, beriman, dan senantioasa takluk. Manusia akan menjadi rahamatan lil alamin hanya apabila manusia menerapkan syariat Islam dengan sebaik-baiknya. Dengan kata lain maka optimalisasi rahmatan lil alamin senantiasa terlihat kelak apabila adanya suatu zaman dimana tercipta kehidupan yang hampir sama dengan kehidupan zaman rasul. Kekhalifahan akan dipimpin oleh orang-orang yang robbani.

KESIMPULAN

Keoptimalan peran manusia sebagai khalifah dibumi akan tercapai dengan sempurna apabila manusia dapat memanfaatkan segala pikiran hebatnya yang dianugerahkan dari Allah dengan menciptakan teknologi yang canggih dengan berdasarkan nilai-nilai keilahiyahan (sifat-sifat Allah –Asmaul Husna-) dan keislaman dengan kemampuan seni mengatur keseimbangan potensi alam dan lainnya dengan dipimpin oleh seorang khalifah yang robbani yang memerintah berdasarkan Syariat Islam.

Apabila hal-halk tersebut tidak tercapai seluruhnya maka tidak pula tercapai keoptimalisasian peran kekhalifahan manusia. Kalaupun terjadi, maka hal tersebut belum dan tidak maksimal. Jadi, pada dasarnya setiap umat manusia mengemban tugas yang maha penting untuk memerankan kekhalifhan di bumi. (fikreatif)

BE AWARE THAT THE BASIC RIGHTS OF THE ISLAMIC UMMAH IS THE PRACTISE OF THE LAWS AND SHARI'AH OF ISLAM


BE AWARE THAT THE BASIC RIGHTS OF THE ISLAMIC UMMAH IS THE PRACTISE OF THE LAWS AND SHARI'AH OF ISLAM
By: Sheikh Abdullah Sungkar & Sheikh Abu Bakar Ba'ashir

We give this Tadhkirah (reminder) in an effort to ward off the Musibah (crisis) which has most recently befallen the Islamic Ummah of Indonesia and generally the
entire Islamic Ummah. May it happen that Allah gives his help to all of them in order that they are saved from this disaster and head in the direction of the True Path.

We direct this reminder towards:

1. In particular, the Muslims in Indonesia and the Islamic Ummah in general.

2. The Indonesian people (non-Muslims), besides the Islamic Ummah.

To the Islamic Ummah:

O Ummah of Islam!

In truth, the disaster which has befallen the Islamic Ummah in this 20th century commenced with the fall of the 'Uthmaani Khilafah in the month of March, 1924. The
occurrence of this event constituted the starting point of the crisis which have befallen the Islamic Ummah throughout the various nations of the world.

Under the colonialisation of the Dutch (Christian Kuffar) and the Japanese (sun worshipping Mushriks), the Islamic Ummah of Indonesia witnessed the colonial
oppression and misappropriation of the Islamic Ummah's rights in a most brutal fashion. This is proof from history which cannot be denied. The events of these tragic
crisis hurt the heart of the Islamic Ummah.

By the leave and help of Allah (s.w.t) the Muslims successfully drove the Kaffir Dutch and the Mushrik Japanese from the soil of the Islamic Ummah in Indonesia.
Therefore at that time, the Muslims had the perfect opportunity to implement their rights, namely, to apply the laws of Islam.

However, that golden opportunity soon elapsed and instead a new disaster replaced that of before. Because of the Muslims' neglect, they eventually had no initiative
whatsoever to implement the laws of Islam. This second disaster occurred in the time of the 'Old Order' regime under the leadership of Soekarno.

The fire of the crisis that was born of the 'Old Order', was fed and fanned by communist doctrines until the events of 'Gestapu' (September the 30th movement of
1965 when the communists attempted to overthrow the government) which resulted in the loss of the lives of tens of thousands of Muslims (some number it as high
as 800,000 lives). Besides that the 'Old Order' gave rise to the deviated doctrines of NASAKOM (a mix of Nationalism, Religion, Communism) which clearly
damaged the Creed of the Muslims.

However, in a repeat of history, the Muslims, by the leave and help of Allah (s.w.t) successfully brought down the 'Old Order'. Overall, the Islamic Ummah
supposed that this 'New Order' was a realisation of the blessings of Allah which would carry the strength of Islam forward. But during its course the 'New Order'
turned into a disaster worse than and more terrifying than that of before.

The then 'New Order', under the management of Soeharto with the armed forces as his instrument, afterwards put into force a strategy of deceit and torment (which
was devised by CSIS -Centre for Strategic and International Studies- , a secular think-tank made up of Kaffir Chinese and Christians). This conceived strategy
proved to be a hammer blow and its poison was at its most venomous towards the Creed of the Muslims as it tried to extinguish the hopes of Islam in
Indonesia.
Amongst the major sins that Soeharto's 'New Order' brought against the Islamic Ummah are:

The implementation of marriage laws which were in complete contradiction of Islamic law, to the point were they were fervently demonstrated against.

The decision to establish Pancasila (the five basic principles of the Republic of Indonesia: the belief in a God Almighty; humanity that is just and civilised; the unity of
Indonesia; democracy guided by the wisdom of redeliberation; social justice for all Indonesians) as the one and only system for all political parties and mass
organisations. This very clearly constitutes shirk and it was enforced by Soeharto's 'New Order' upon the Muslims. The reason why it is shirk is since the principles
which serve as the basis for all aspects of private or communal matters within the Islamic Ummah can only be the Qur'an and the Sunnah. This is a firm conviction
which cannot be compromised or altered whatsoever.

The prohibition of political parties which could possibly produce an Islamic leader who agree with the Qur'an and the Sunnah. This strategy definitively closed the
doors on efforts to uphold a leader who was in accordance with the Qur'an and the Sunnah, which is an important obligation of the Islamic Ummah towards Allah
and His Messenger (s.a.w).

The implementation of a doctrine which states that all religions are the same and the doctrine of P4 (the fourth principle of Pancasila) which clearly attacks the Creed
of the Muslims as well as being contradictory to the laws of Islam.

The slaughter and extermination of those within the Islamic Ummah who demand that Islamic law be put into effect in Indonesia. The bloody events of Tanjung Priok
in 1984 and those in Lampung some years afterwards, are proof of the cruelty and brutality of Soeharto's 'New Order' towards the Islamic Ummah.

The bloody actions of Soeharto's 'New Order' with the armed forces as his instrument, which truly strove the hardest they possibly could in order to eradicate
Islamic behaviour in Indonesia, are blatant indications of their hate towards Islam.

Another vital complication which has occurred in the time of Soeharto's 'New Order' is the drastic decline of the Indonesian economy which started with the
economic monopoly by the Soeharto 'dynasty', and those people close to him, towards the national debt (whose payments were burdened upon the common people
and which skyrocketed with the continual corruption) that increased disturbingly until there was an economic rift between the indigenous people, who were mainly
Muslim, and the Chinese who were mainly Kuffar.

O Ummah of Islam!

Be aware that the reasons for the crisis of the 'Old Order' and the 'New Order' were because we were neglectful and failed to be thankful for the blessings of Allah
at the time we strove against the Dutch ChrKuffar and the Mushrik Japanese.

Until now we continue to fill Indonesia with evils in contradiction to the laws of Islam. That is a form of Kufr due to our neglect of the blessings of Allah.

We must realise our mistakes regarding this matter. We must fill this nation only with those concepts of a nation which is founded upon the Qur'an and the Sunnah,
until all of Islam's Shari'ah Laws are in place in accordance with the command of Allah:

"O you who believe! Enter perfectly into Islam (by obeying all the rules and regulations of the Islamic religion) and follow not the footsteps of Satan. Verily! He is to
you a plain enemy." [2: 208].

O Ummah of Islam!

Whoever leads Indonesia, we must realise that the struggle to come must be directed towards smoothing the way for strengthening the laws of Islam, with the
understanding that this nation is a gift from Allah and it must be based on the Qur'an and the Sunnah, without exception. Only this will save
Indonesia from the crisis.
As for the scholars who teach and convey the Message of Islam, they must bring this matter to the awareness of the common people, until the direction and purpose
of this struggle is truly understood and founded by the Islamic Ummah.

We have two choices before us:

Life in a nation based upon the Qur'an and the Sunnah or

Death while striving to implement, in their entirety, laws based upon the Qur'an and the Sunnah.

The third choice is to degrade ourselves and this is detested by Allah (s.w.t.): "O you who believe! If you help (in the Cause of) Allah, He will help you, and make
your foothold firm. But those who disbelieve, for them is destruction, and (Allah) will make their deeds vain." [47: 7-8].

To the non-Muslim Indonesians:

Be aware that the basic rights of the Islamic Ummah is the practise of the laws and Shari'ah of Islam, in its entirety, especially since they make up the majority of the
people in
Indonesia. History shows that the Muslims in Indonesia were those in the majority who spilt their blood against the colonialist Dutch and Japanese in
Indonesia, until by the Mercy and help of Allah they successfully drove them from the land of Indonesia. As the majority of the population, they have the right to
regulate
Indonesia with the laws of Islam. This time the Islamic Ummah is striving hard in the pursuit of their basic rights. You have no right to block our way!

O nation of Indonesia (non-Muslim), have belief that you will only achieve justice by the implementation of Islamic Shari'ah. Under the protection of Islam, all
religions are at liberty to practise their worship and are not forced to embrace Islam, whether that be by fair means or foul.

"There is no compulsion in religion. Verily, the right path has become distinct from the wrong path." [2: 256]

Have belief that corruption, crime, nepotism and various other misdeeds will only be removed totally by the laws of Islam. The history of mankind proves that laws
other than those of Islam have never been able to solve these problems, whether in the West or ...

We give this Tadhkirah (reminder) in an effort to ward off the Musibah (crisis) which has most recently befallen the Islamic Ummah of Indonesia and generally the
entire Islamic Ummah. May it happen that Allah gives his help to all of them in order that they are saved from this disaster and head in the direction of the True Path.

We direct this reminder towards:

1. In particular, the Muslims in Indonesia and the Islamic Ummah in general.

2. The Indonesian people (non-Muslims), besides the Islamic Ummah.

To the Islamic Ummah:

O Ummah of Islam!

In truth, the disaster which has befallen the Islamic Ummah in this 20th century commenced with the fall of the 'Uthmaani Khilafah in the month of March, 1924. The
occurrence of this event constituted the starting point of the crisis which have befallen the Islamic Ummah throughout the various nations of the world.

Under the colonialisation of the Dutch (Christian Kuffar) and the Japanese (sun worshipping Mushriks), the Islamic Ummah of Indonesia witnessed the colonial
oppression and misappropriation of the Islamic Ummah's rights in a most brutal fashion. This is proof from history which cannot be denied. The events of these tragic
crisis hurt the heart of the Islamic Ummah.

By the leave and help of Allah (s.w.t) the Muslims successfully drove the Kaffir Dutch and the Mushrik Japanese from the soil of the Islamic Ummah in Indonesia.
Therefore at that time, the Muslims had the perfect opportunity to implement their rights, namely, to apply the laws of Islam.

However, that golden opportunity soon elapsed and instead a new disaster replaced that of before. Because of the Muslims' neglect, they eventually had no initiative
whatsoever to implement the laws of Islam. This second disaster occurred in the time of the 'Old Order' regime under the leadership of Soekarno.

The fire of the crisis that was born of the 'Old Order', was fed and fanned by communist doctrines until the events of 'Gestapu' (September the 30th movement of
1965 when the communists attempted to overthrow the government) which resulted in the loss of the lives of tens of thousands of Muslims (some number it as high
as 800,000 lives). Besides that the 'Old Order' gave rise to the deviated doctrines of NASAKOM (a mix of Nationalism, Religion, Communism) which clearly
damaged the Creed of the Muslims.

However, in a repeat of history, the Muslims, by the leave and help of Allah (s.w.t) successfully brought down the 'Old Order'. Overall, the Islamic Ummah
supposed that this 'New Order' was a realisation of the blessings of Allah which would carry the strength of Islam forward. But during its course the 'New Order'
turned into a disaster worse than and more terrifying than that of before.

The then 'New Order', under the management of Soeharto with the armed forces as his instrument, afterwards put into force a strategy of deceit and torment (which
was devised by CSIS -Centre for Strategic and International Studies- , a secular think-tank made up of Kaffir Chinese and Christians). This conceived strategy
proved to be a hammer blow and its poison was at its most venomous towards the Creed of the Muslims as it tried to extinguish the hopes of Islam in
Indonesia.
Amongst the major sins that Soeharto's 'New Order' brought against the Islamic Ummah are:

The implementation of marriage laws which were in complete contradiction of Islamic law, to the point were they were fervently demonstrated against.

The decision to establish Pancasila (the five basic principles of the Republic of Indonesia: the belief in a God Almighty; humanity that is just and civilised; the unity of
Indonesia; democracy guided by the wisdom of redeliberation; social justice for all Indonesians) as the one and only system for all political parties and mass
organisations. This very clearly constitutes shirk and it was enforced by Soeharto's 'New Order' upon the Muslims. The reason why it is shirk is since the principles
which serve as the basis for all aspects of private or communal matters within the Islamic Ummah can only be the Qur'an and the Sunnah. This is a firm conviction
which cannot be compromised or altered whatsoever.

The prohibition of political parties which could possibly produce an Islamic leader who agree with the Qur'an and the Sunnah. This strategy definitively closed the
doors on efforts to uphold a leader who was in accordance with the Qur'an and the Sunnah, which is an important obligation of the Islamic Ummah towards Allah
and His Messenger (s.a.w).

The implementation of a doctrine which states that all religions are the same and the doctrine of P4 (the fourth principle of Pancasila) which clearly attacks the Creed
of the Muslims as well as being contradictory to the laws of Islam.

The slaughter and extermination of those within the Islamic Ummah who demand that Islamic law be put into effect in Indonesia. The bloody events of Tanjung Priok
in 1984 and those in Lampung some years afterwards, are proof of the cruelty and brutality of Soeharto's 'New Order' towards the Islamic Ummah.

The bloody actions of Soeharto's 'New Order' with the armed forces as his instrument, which truly strove the hardest they possibly could in order to eradicate
Islamic behaviour in Indonesia, are blatant indications of their hate towards Islam.

Another vital complication which has occurred in the time of Soeharto's 'New Order' is the drastic decline of the Indonesian economy which started with the
economic monopoly by the Soeharto 'dynasty', and those people close to him, towards the national debt (whose payments were burdened upon the common people
and which skyrocketed with the continual corruption) that increased disturbingly until there was an economic rift between the indigenous people, who were mainly
Muslim, and the Chinese who were mainly Kuffar.

O Ummah of Islam!

Be aware that the reasons for the crisis of the 'Old Order' and the 'New Order' were because we were neglectful and failed to be thankful for the blessings of Allah
at the time we strove against the Dutch ChrKuffar and the Mushrik Japanese.

Until now we continue to fill Indonesia with evils in contradiction to the laws of Islam. That is a form of Kufr due to our neglect of the blessings of Allah.

We must realise our mistakes regarding this matter. We must fill this nation only with those concepts of a nation which is founded upon the Qur'an and the Sunnah,
until all of Islam's Shari'ah Laws are in place in accordance with the command of Allah:

"O you who believe! Enter perfectly into Islam (by obeying all the rules and regulations of the Islamic religion) and follow not the footsteps of Satan. Verily! He is to
you a plain enemy." [2: 208].

O Ummah of Islam!

Whoever leads Indonesia, we must realise that the struggle to come must be directed towards smoothing the way for strengthening the laws of Islam, with the
understanding that this nation is a gift from Allah and it must be based on the Qur'an and the Sunnah, without exception. Only this will save
Indonesia from the crisis.
As for the scholars who teach and convey the Message of Islam, they must bring this matter to the awareness of the common people, until the direction and purpose
of this struggle is truly understood and founded by the Islamic Ummah.

We have two choices before us:

Life in a nation based upon the Qur'an and the Sunnah or

Death while striving to implement, in their entirety, laws based upon the Qur'an and the Sunnah.

The third choice is to degrade ourselves and this is detested by Allah (s.w.t.): "O you who believe! If you help (in the Cause of) Allah, He will help you, and make
your foothold firm. But those who disbelieve, for them is destruction, and (Allah) will make their deeds vain." [47: 7-8].

To the non-Muslim Indonesians:

Be aware that the basic rights of the Islamic Ummah is the practise of the laws and Shari'ah of Islam, in its entirety, especially since they make up the majority of the
people in
Indonesia. History shows that the Muslims in Indonesia were those in the majority who spilt their blood against the colonialist Dutch and Japanese in
Indonesia, until by the Mercy and help of Allah they successfully drove them from the land of Indonesia. As the majority of the population, they have the right to
regulate
Indonesia with the laws of Islam. This time the Islamic Ummah is striving hard in the pursuit of their basic rights. You have no right to block our way!

O nation of Indonesia (non-Muslim), have belief that you will only achieve justice by the implementation of Islamic Shari'ah. Under the protection of Islam, all
religions are at liberty to practise their worship and are not forced to embrace Islam, whether that be by fair means or foul.

"There is no compulsion in religion. Verily, the right path has become distinct from the wrong path." [2: 256]

Have belief that corruption, crime, nepotism and various other misdeeds will only be removed totally by the laws of Islam. The history of mankind proves that laws
other than those of Islam have never been able to solve these problems, whether in the West or the East.

Have belief that a fair and peaceful prosperity can only be materialised by the practise of Islamic Shari'ah in this nation. Laws other than the laws of Islam, despite the
possibility of being able to bring about alleged prosperity, will not be capable of bringing into reality peacefulness.

Do not be in opposition to the laws of Allah Who created you and fulfilled all your needs.

May it be that Allah (s.w.t.) blesses this reminder. O Allah bear witness to the truth of this as we fulfil your commands to the best of our ability. Forgive our
transgressions.
----------

(fikreatif)

 
ES-TE-EM-JE - Wordpress Themes is powered by WordPress. Theme designed by Web Hosting Geeks and Top WordPress Themes.
por Templates Novo Blogger