Memaknai Ungkapan "Kegagalan Adalah Sukses Yang Tertunda"

Monday, June 30, 2008

Kegagalan Adalah Sukses Yang Tertunda

Cerah indah Mentari pagi

Riang nyaring burung bernyanyi

Keras berjuanglah tanpa henti

Kelak kau raih kemenangan sejati

(tentang pemaknaan arti kerja keras itu harus sustainable)

*******************************

Ketika aku menulis tulisan ini, aku masih menjadi seorang mahasiswa yang duduk di semester 8. Aku masih sangat kecil. Aku bukanlah anak seorang kaya yang tinggal menggunakan jentikan jari tangan memerintah siapa saja untuk melakukan apa saja yang kita inginkan dengan imbalan uang dan harta. Kesuksesan adalah sesuatu yang masih jauh dalam angan-angan hatiku.

Aku hanya berpikir bahwa suatu hari nanti aku akan meraih kesuksesan sebagaimana yang aku inginkan, sukses dunia dan sukses akhirat. Terkesan klise memang. Tapi, saya berpikir, masih adakah cita-cita yang lebih tinggi dari cita-cita saya tersebut? Orang tua dulu sering mengatakan gapailah cita-cita mu setinggi langit di angkasa.

Dalam beberapa kali kesempatan aku bisa membaca buku, melihat kesuksesan seseorang dalam suatu hal, mendengar kesuksesan seorang teman, merasakan aura kesuksesan seorang sahabat, apapun bentuk kesuksesan itu aku mengambil kesimpulan bahwa mereka memiliki satu kata kunci yaitu semangat berjuang atau semangat bekerja keras, atau kalimat dan kata yang semakna dengan itu. Dan mungkin sekali mereka menancapkan dalam hatinya jargon “kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda”.

Seringkali aku berkata dalam hati, “siapa yang membuat jargon itu sih, mana ada kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Bagi aku, gagal adalah gagal. Yang membuat jargon itu pasti orang yang menjaga gengsi aja biar ga malu karena telah gagal.”

Dahulu, seringkali aku akan mengatakan seperti itu. Dan aku rasa, temen-temen juga demikian mungkin. Atau paling tidak kita hanya mengatakan “kegagalan adalah sukses yang tertunda” tetapi sebenarnya kita tidak tahu maksud jargon itu. Seolah kalimat indah tanpa makna.

Namun, setelah aku mencermati ulang kalimat tersebut, aku meralat pandanganku tersebut dan kini menggunakan jargon itu sebagai salah satu prinsip hidup yang agung.

Makna yang terkandungg dalam kalimat “kesuksesan adalah sukses yang tertunda” ternyata memiliki makna yang sangat dalam. Kalimat itu memiliki makna bahwa kita tidak boleh mengatakan kegagalan yang kita alami sebagai kegagalan tetapi sebuah proses menuju sebuah kesuksesan. Ibarat tangga, maka itu adalah tahapan yang harus kita lalui sebelum mencapai puncak tujuan tangga itu. Sehingga, dalam kamus para pejuang yang ingin meraih sukses itu mungkin sama sekali tidak ada istilah gagal. Karena ketika mereka mengatakan gagal, itu berarti perjalanan mereka berhenti dan mereka harus mengulanginya lagi dari awal. Dan kalimat tersembunyi lainnya yang bisa aku tarik dari jargon popular tersebut adalah bahwa sebenarnya kesuksesan itu juga tidak boleh kita pahami sebagai sebuah posisi puncak, yang berarti adalah sudah tidak ada lagi tempat yang lebih tinggi dari kedudukan puncak sukses kita tersebut. Artinya, kita tidak boleh cepat merasa puas dengan kesuksesan yang telah kita raih dan mengiranya sudah tidak ada puncak lagi.

Sebagai seorang pelajar / mahasiswa, kita seringkali berpikir bahwa proses belajar ini akan berakhir. Ketika kita SD, kita merasa bahwa setelah selesai SD maka berarti belajar sudah selesai, padahal belum apa-apa. Masih ada SMP dan SMU. Ketika kita kuliah di perguruan tinggi seolah pendidikan hanya berakhir di strata 1 (S1), padahal masih ada Pasca Sarjana / Master / S2, dan S3 atau Doktoral. Dan sebagian orang pun, ketika mereka punya cita-cita memperoleh gelar S3 dan ternyata dia berhasil, apabila seseorang tersebut menyatakan bahwa puncak pendidikan adalah gelar Doktor, maka sebenarnya dia telah tertipu dengan kesuksesan. Setelah dia meraih gelar doktoralnya itu, dia akan merasa hampa. Kenapa? Karena dia telah merasa di puncak yang sudah tidak ada lagi tempat yang lebih tinggi selain itu. Sedangkan “belajar itu dari mulai buaian hingga liang lahat”.

Thomas Alva Edison konon sebelum menemukan temuannya tentang lampu atau listrik, dia mengatakan bahwa percobaannya menemukan lampu itu setelah mengalami kegagalan sebanyak 9999 kali. Baru setelah yang ke sepuluh ribu, dia berhasil menemukan temuannya.

Seandainya dia berpikir untuk berhenti pada percobaan yang ke 9998-nya, lantas apa yang akan terjadi? Mungkin saja dia tidak akan menemukan lampu dan listrik tidak sampai kepada kita. Itu artinya, Alva Edison tidak berpikir pada percobaan ke-berapa dia akan menemukan temuannya tersebut. Dalam sebuah surat kabar, aku teringat dia mengatakan bahwa 9999 kali kegagalan percobaanya itu ternyata mengandung pelajaran yang bisa ia gunakan untuk menemukan jalan menemukan lampu.

Makna terakhir dari jargon “kegagalan adalah sukses yang tertunda” adalah bahwa jalan kesuksesan tiap individu itu berbeda-beda dan merupakan rahasia ilahi. Kita jangan memiliki perasaan bahwa kesuksesan seseorang bisa diikuti dengan mengekor cara suksesnya seseorang yang lain karena tiap orang memiliki gayanya masing-masing.

Anne Ahira (lahir 28 November 1979), biasa panggil Ahira atau Hira, seorang internet marketer kelas dunia dari Indonesia, CEO Asian Brain (sekolah bisnis online yang ia dirikan) pernah mengatakan bahwa kesuksesan yang dia peroleh saat ini (konon honor tertinggi yang dia peroleh, adalah saat dia memberikan kuliah atau semacam seminar di Amerika Serikat dimana bayarannya untuk berbicara saja sebesar kurang lebih 200 juta rupiah per jamnya) ditempuh dengan perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa. Dia korbankan waktu 24 jam untuk mempelajari internet marketing. Dia korbankan kuliahnya yang harus berantakan untuk satu tujuan mempelajari internet marketing. Dia tinggalkan teman-temannya yang suka having funinternet marketing dengan cara surfing internet di warung internet. Andai saja, dia putus asa dan menyerah pada saat total pengeluarannya untuk warnet pada nominal 100 juta rupiah, kemudian berhenti. Mungkin dia benar-benar menjadi orang yang gagal. Kuliahnya hancur, kesehatannya rapuh, orang tuanya membencinya, dst. dan menikmati dunia. Dan perlu diketahui juga, dia telah mengeluarkan ratusan juta rupiah hanya untuk mempelajari

Mari kita berjuang kawan-kawan!!! (fikreatif) Baca Tulisan-Tulisan Yang Di SINI

Pluralisme Terselubung dalam Ayat-Ayat Cinta

Thursday, March 6, 2008

Pesona Novel Ayat-ayat Cinta, telah menjulangkan nama penulisnya Habiburrahman El Shirazy, ke posisi Tokoh Perubahan 2007 versi Republika .Seperti sastrawan dan budayawan Mesir Mahmud Abbas al-Aqqad ,Thaha Husein dan lainnya , yang menjadi makelar zionis melalui gagasan multikultural dan multikeyakinan. Agen zionis memang tidak pernah kehilangan cara untuk menemukan kaki tangan di bidang sastra dan budaya .


Membaca novel ayat-ayat cinta menyisakan beragam kesan. Mungkinkah penulisnya dianggap figur yang tepat sebagai makelar zionis melalui misi pluralisme agama?

Lahir di Semarang Kamis 30 September 1976, Habiburahman el-Shirazy , memulai pendidikan menengahnya di MTs Futuhiyah 1 Mranggen, Demak di bawah asuhan KH Abdul Bashir Hamzah. Pada tahun 1992 ia merantau ke kota budaya Surakarta untuk belajar di Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) Surakarta , lulus pada tahun 1995.

Setelah itu melanjutkan pelajaran ke Fakultas Ushuludin, Jurusan Hadist di Universitas Al-Azhar Kairo daan selesai pada tahun 1999. Pada tahun 2001 lulus Postgraduate Diploma (Pg.D) S2 di The Institute for Islamic Studies di Kairo yang didirikan oleh imam al Baiquri.

Kembali ke tanah air pada pertengahan oktober 2002 , ia diminta ikut mentashih kamus populer arab-indonesia yang disusun oleh KMNU mesir dan diterbitkan oleh Diva pustaka Jakarta (juni 2003). Ia menjadi kontributor penyusun ensiklopedi intelektualisme pesantren : Potret tokoh dan pemikirannya , (terdiri atas tiga jilid diterbitkan oleh diva pustaka jakarta 2003).

Antara tahun 2003-2004, ia mendedikasikan ilmunya di MAN 1 jogjakarta .Selanjutnya sejak tahun 2004 hingga 2006, ia menjadi dosen lembaga Pengajaran Bahasa Arab dan Islam Abu Bakar Ash Shidiq UMS Surakarta. Saat ini ia mendedikasikan dirinya di dunia dakwah dan pendidikan lewat karya –karyanya dan pesantren karya dan wirausaha basmala Indonesia bersama adik dan temannya.

Dengan reputasi demikian , beralasan bila sebagian pembaca mengidolakanya bagai HAMKA muda .Seperti juga dalam bidang pemikiran dan politik , khalayak indonesia pernah menyematkan nama Natsir Muda pada diri nurcholis majid . Apalagi penulis ayat-ayat cinta cukup berprestasi internasional yang lama menimba ilmu di Al-Azhar Mesir , dan akrab dengan budayawan serta novelis di mesir yang terkenal sebagai sarang pembinaan zionis.

TOURIS DAN DZIMMI

Begitu gegap gempita publikasi novel ayat ayat cinta , menyebabkan banyak pembaca kehilangan daya kritis . Sehingga nyala api pluralisma menerobos masuk imajinasi penulis, tak dirasa adanya . Pada mulanya, barangkali sekadar titipan ide , namun jelas titipan ide dimaksud menjadi ide sentral rangkaian kisah cerita novel ayat ayat cinta.

Pada bagian ketiga di bawah judul “Kejadian di Dalam Metro misalnya , berlangsung cekcok antara rombongan turis amerika dengan penumpang asli mesir yang meledakan amarahnya pada bule –bule itu, sebagai ganti kejengkelan mereka pada pemerintah amerika yang arogan dan membantai umat Islam di Afghanistan, Iraq dan Palestina . Namun dalam cekcok tersebut penulis hanya menyalahkan orang mesir dan memposisikan touris kafir yang berkunjung ke negara-negara berpenduduk Islam seperti mesir sebagai ahlu dzimmah yang memiliki hak hak kekebalan diplomatik, dengan manipulasi dalil agama. Ahlul Dzimmah adalah semua non Muslim yang berada di dalam Negara kaum Muslimin , masuk secara legal , membayar visa ,punya paspor ,hukumya sama dengan ahlu dzimmah, darah dan kehormatan mereka harus dilindungi , katanya.

Sebagai pembenaran atas pembelaanya pada bule amerika itu , penulis mencomot sebuah hadist : “barang siapa menyakiti orang dzimmi , dia telah menyakiti diriku dan siapa yang menyakiti diriku berarti dia menyakiti ALLAH” .

Padahal menempatkan touris asing sebagai dzimmi di negeri muslim bukan saja tidak memiliki argumentasi syar’iyah ,tetapi juga merusak tatanan syar’I secara keseluruhan. Persoalannya ,bukan pada perlakuan kasar dan halus terhadap touris , melainkan pada posisi yang disematkan bahwa touris tidak sama dengan ahlu dzimmah baik hak maupun kewjibannya . Pembayaran visa tidak bisa disamakan dengan jizyah. Sebab legalitas hokum bagi touris dan ahlu dzimmah memiliki perbedaan-perbedaan sehingga mengakibatkan konsekuensi hokum yang berbeda pula .

Perbedaan itu antara lain :Pertama, Ahludz dzimmah (dzimmi) adalah orang kafir yang menjadi warga negara Negara Islam .Sedangkan touris tidak memiliki hak kewarganegaraan dan hanya memiliki hak pelayanan sebagai tamu.

Kedua , Dzimmi mempunyai hak dan kewajiban sebagai warga Negara .Bilamana pemerintah tidak bisa memenuhi hak kewarganegaraan orang dzimmi , maka mereka tidak wajib lagi membayar jizyah (pajak). Sedangkan pembayaran visa touris yang berkunjung se sebuah Negara Islam tidak dapat dianggap sebagai jizyah, karena orang Islam yang bukan penduduk Negara yang dikunjunginya juga juga harus membayar visa. Apakah orang Islam yang berkunjung ke Negara Islam juga dianggap Dzimmi oleh pemerintah Negara tempat dia berwisata?

Ketiga , pada keadaan darurat , pemerintah Negara Islam dapat mewajibkan penduduk dzimmi untuk menjalani wajib militer . Berbeda dengan touris, apabila datang suatu Negara yang sedang dalam keadaan darurat perang tidak bisa dipaksa ikut wajib militer bagi negri yang dikunjunginya.

Perbedaan prinsip diatas nampaknya kurang dipahami oleh penulis novel , dan lebih terpesona dengan misi global yang menjadi gerak nafas pluralisme ; sehinga menghilangkan kewaspadaan. Boleh jadi touris itu justru musuh yang sedang menyamar,meneliti , atau mejalankan misi intelejen. Novelis muda lulusan Filsafat Al- Azhar Cairo itu ,bergaya ulama besar ahli fiqih dan ahli hadist berkaliber dunia , lalu mengintroduksi hadist dzimmi sebagai ‘ijtihad cemerlang’.

Untuk menetralisir kecurigaan dan menangkal virus berbahaya terutama bagi pembaca muda yang jadi sasaran utama novel ini, sebenarnya penulis dapat , mengimbanginya dengan wacana pemikiran yang adil, bahwa kasus kedatangan touris-touris kafir di negeri Islam membawa dampak kerusakan moral dan sosialdi tengah masyarakat Muslim. Bahkan sebagian sengaja disusupkan sebagai mata-mata terselubung. Fakta ini dapat terlihat jelas dan ditemukan oleh para pejabat intelejen negara bahwa touris biasa dipakai kedok oleh para agen intelejen untuk menjalankan operasinya. Namun , penulis lebih mendahulukan ‘baik sangka’ daripada waspada , suatu sikap yang membuat umat Islam berulangkali tertipu dan di nina bobokan gagasan harmonisasi antar umat beragama , tanpa mempertimbangkan akibatnya yang berbahaya .

Namun penulis alfa melakukanya . Maka , tidak aneh bila terdapat pembaca kritis mempertanyakan misi siapa yang hendak dipasarkan oleh penulis di balik novelnya yang best seller tersebut? Di lihat dari simplifikasi penggunaan dalil- dalil agama untuk menopang argumentasi ,dan memanipulasi tujuan politik yang halus , merupakan ciri khas komprador zionisme yang bergentayangan di tengah-tengah masyarakat Muslim. Maka novel ayat-ayat cinta yang sudah 30 kali cetak ulang dengan tiras 500 ribu eksemplar , menjadi pembuluh darah halus yang mengalirkan misi pluralisme agama yang telah diformat oleh zionisme internasional dan dipasarkan di tengah-tengah masyarakat Muslim Indonesia .

Tanpa pretensi ‘buruk sangka’ terhadap novelis muda Habiburrahman , kisah sampingan yang ditampilkan berkaitan dengan touris amerika itu, kita perlu mewaspadai adanya celupan misi zionis dalam obrolan seperti kejadian di Dalam Metro itu. Sudah banyak pemuda yang diperalat untuk mengembangkan faham toleransi dan pluralisme agama melalui tokoh tokoh indonesia yang dianggap cemerlang dan berpengaruh.

Source: Risalah Mujahidin .

Tip Membuat Potongan Kalimat di Blogspot

Saturday, February 2, 2008

Bagaimana memotong postingan di blogspot dengan kata “baca selengkapnya..” atau “read more..” sehingga yang tampil di halaman depan hanya separuh postingan dan postingan lengkap akan muncul apabila link “baca selengkapnya..” atau “read more..” di klik
Sebenarnya fasilitas ini nggak ada di blogger/blogspot, tapi kalo pake wordpress fasilitas ini udah ada, cukup klik dimana kamu pengen memotong postingan, kemudian klik icon
Disini, saya dapat sebuah artikel dari http://seuntaikenangantiptrik.blogspot.com/2007/05/tip-memotong-postingan-di-blogspot.html tentang tata cara membuat potongan kalimat tersebut.
Untuk pengguna blogspot, berikut ini langkah modifikasi yang bisa dilakukan. Trik ini menggunakan css untuk menyembunyikan sebagian post, sehingga hanya bagian yang diinginkan saja yang tampil di halaman depan.


Untuk New Bloger(Bloger Baru)
Caranya:
• Login ke blogger.com, pilih blog yang pengen kamu edit, klik link Layout kemudian masuk ke Edit HTML
• Untuk bisa ngedit template secara keseluruhan, kamu harus centang/tandai/aktifkan Expand Widget Templates
• Masukkan kode berikut sebelum tag atau tepat sesudah kode
} ]]> seperti ini:




Selanjutnya mengatur supaya postingan terpotong, cari kode

dalam template kamu dan tambahkan kode dibawah ini:


Read More..


• Nah supaya terpotong, setiap kali kamu posting, klik pada bagian posting dimana kamu pengen tulisan Read More.. muncul, dan ketik sisa postingan sampai selesai . Untuk menmbahkan kode ini, ketika posting kamu harus dalam mode Edit HTML bukan Compose


Bloger Lama (clasik)

Pertama buka template blogger kamu, kemudian tambahkan CSS berikut, CSS biasanya terletak di antara tag



span.selengkapnya {display:none;}


span.selengkapnya {display:inline;}



Dengan style ini, kita membuat sebuah class di css dengan nama “selengkapnya” dan hanya akan tampil ketika postingan berdiri sendiri (post page).

Langkah kedua adalah menambahkan kode untuk menampilkan link “baca selengkapnya…” tambahkan kode berikut setelah kode < $BlogItemBody$> pada template kamu:




baca selengkapnya..



kamu bisa mengganti tulisan “baca selengkapnya..” atau "Fullpost" dengan kata lain yang kamu suka!
Setelah mengkopi kode-kode diatas kedalam template kamu, Save Template dan Republish.
Langkah terakhir adalah melakukan modifikasi setiap kali kamu membuat postingan. Ketika membuat berita yang akan dipotong, selalu gunakan mode Edit Html bukan Compose mode , dan tambahkan kode seperti contoh berikut ini:


Ini adalah awal postingan dan akan dipotong disini. Ini adalah akhir postingan saya


Maka akan menghasilkan sebuah postingan seperti ini:
Ini adalah awal postingan dan akan dipotong disini. baca selengkapnya..
ketika link di klik maka akan menampilkan postingan secara penuh seperti ini:

Ini adalah awal postingan dan akan dipotong disini. Ini adalah akhir postingan saya.

*Isnaini.com
source: http://seuntaikenangantiptrik.blogspot.com/

Memahami Sejarah Hijriah

Friday, January 18, 2008

Memahami Sejarah Hijriah
Said Aqiel Siradj
Ketua PBNU

Sebelum kedatangan agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW, masyarakat Arab memakai kalender lunisolar, yaitu kalender lunar yang disesuaikan dengan matahari. Tahun baru (Ra's as-Sanah = "Kepala Tahun") selalu berlangsung setelah berakhirnya musim panas sekitar September.
Bulan pertama dinamai Muharram, sebab pada bulan itu semua suku atau kabilah di Semenanjung Arabia sepakat untuk mengharamkan peperangan. Pada bulan Oktober, daun-daun menguning sehingga bulan itu dinamai Shafar ("kuning"). Bulan November dan Desember pada musim gugur (rabi`) berturut-turut dinamai Rabi`ul-Awwal dan Rabi`ul-Akhir. Januari dan Februari adalah musim dingin (jumad atau "beku"), sehingga dinamai Jumadil-Awwal dan Jumadil-Akhir. Kemudian salju mencair (Rajab) pada bulan Maret.
Bulan April di musim semi merupakan bulan Sya'ban (syi'b = lembah), saat turun ke lembah-lembah untuk mengolah lahan pertanian atau menggembala ternak. Pada bulan Mei, suhu mulai membakar kulit, lalu suhu meningkat pada bulan Juni. Itulah bulan Ramadhan ("pembakaran") dan Syawwal ("peningkatan").
Bulan Juli merupakan puncak musim panas yang membuat orang lebih senang istirahat duduk di rumah daripada bepergian, sehingga bulan ini dinamai Dzul-Qa`dah (qa`id = duduk). Akhirnya, Agustus dinamai Dzul-Hijjah, sebab pada bulan itu masyarakat Arab menunaikan ibadah haji ajaran nenek moyang mereka, Nabi Ibrahim AS.
Setiap bulan diawali saat munculnya hilal, berselang-seling 30 atau 29 hari, sehingga 354 hari setahun, 11 hari lebih cepat dari kalender solar yang setahunnya 365 hari. Agar kembali sesuai dengan perjalanan matahari dan agar tahun baru selalu jatuh pada awal musim gugur, maka dalam setiap periode 19 tahun ada tujuh buah tahun yang jumlah bulannya 13 (satu tahunnya 384 hari). Bulan interkalasi atau bulan ekstra ini disebut nasi' yang ditambahkan pada akhir tahun sesudah Dzul-Hijjah.
Ternyata, tidak semua kabilah di Semenanjung Arabia sepakat mengenai tahun-tahun mana saja yang mempunyai bulan nasi'. Masing-masing kabilah seenaknya menentukan bahwa tahun yang satu 13 bulan dan tahun yang lain cuma 12 bulan. Lebih celaka lagi, jika suatu kaum memerangi kaum lainnya pada bulan Muharram (bulan terlarang untuk berperang) dengan alasan perang itu masih dalam bulan nasi', belum masuk Muharram, menurut kalender mereka. Akibatnya, masalah bulan interkalasi ini banyak menimbulkan permusuhan di kalangan masyarakat Arab.
Setelah masyarakat Arab memeluk agama Islam dan bersatu di bawah pimpinan Nabi Muhammad SAW, maka turunlah perintah Allah SWT agar umat Islam memakai kalender lunar yang murni dengan menghilangkan bulan nasi'. Hal ini, tercantum dalam kitab suci Alquran Surat Attaubah ayat 36 dan 37. Dengan turunnya wahyu Allah di atas, Nabi Muhammad SAW mengeluarkan dekrit bahwa kalender Islam tidak lagi bergantung kepada perjalanan matahari.
Meskipun nama-nama bulan dari Muharam sampai Dzul-Hijjah tetap digunakan karena sudah populer pemakaiannya, bulan-bulan tersebut bergeser setiap tahun dari musim ke musim, sehingga Ramadhan ("pembakaran") tidak selalu pada musim panas dan Jumadil-Awwal ("beku pertama") tidak selalu pada musim dingin.
Mengapa harus kalender lunar murni? Hal ini, disebabkan agama Islam bukanlah hanya untuk masyarakat Arab di Timur Tengah saja, melainkan untuk seluruh umat manusia di berbagai penjuru bumi yang letak geografis dan musimnya berbeda-beda. Sangatlah tidak adil, jika misalnya Ramadhan (bulan menunaikan ibadah puasa) ditetapkan menurut sistem kalender solar atau lunisolar, sebab hal ini mengakibatkan masyarakat Islam di suatu kawasan berpuasa selalu di musim panas atau selalu di musim dingin.
Sebaliknya, dengan memakai kalender lunar yang murni, masyarakat Kazakhstan atau umat Islam di London berpuasa 18 jam di musim panas, tetapi berbuka puasa pukul empat sore di musim dingin. Umat Islam yang menunaikan ibadah haji pada suatu saat merasakan teriknya matahari Arafah di musim panas, dan pada saat yang lain merasakan sejuknya udara Makkah di musim dingin.
Pada masa Nabi Muhammad SAW, penyebutan tahun berdasarkan suatu peristiwa yang dianggap penting pada tahun tersebut. Misalnya, Nabi Muhammad saw lahir tanggal 12 Rabi`ul-Awwal Tahun Gajah ('Am al-Fil), sebab pada tahun tersebut pasukan bergajah, raja Abrahah dari Yaman berniat menyerang Ka'bah.
Ketika Nabi Muhammad saw wafat tahun 632, kekuasaan Islam baru meliputi Semenanjung Arabia. Tetapi, pada masa Khalifah Umar ibn Khattab (634-644) kekuasaan Islam meluas dari Mesir sampai Persia. Pada tahun 638, Gubernur Irak Abu Musa al-Asy`ari berkirim surat kepada Khalifah Umar di Madinah, yang isinya antara lain: "Surat-surat kita memiliki tanggal dan bulan, tetapi tidak berangka tahun. Sudah saatnya umat Islam membuat tarikh sendiri dalam perhitungan tahun."
Khalifah Umar ibn Khattab menyetujui usul gubernurnya ini. Terbentuklah panitia yang diketuai Khalifah Umar sendiri dengan anggota enam Sahabat Nabi terkemuka, yaitu Utsman ibn Affan, Ali ibn Abi Talib, Abdurrahman ibn Auf, Sa`ad ibn Abi Waqqas, Talhah ibn Ubaidillah, dan Zubair ibn Awwam. Mereka bermusyawarah untuk menentukan Tahun Satu dari kalender yang selama ini digunakan tanpa angka tahun. Ada yang mengusulkan perhitungan dari tahun kelahiran Nabi ('Am al-Fil, 571 M), dan ada pula yang mengusulkan tahun turunnya wahyu Allah yang pertama ('Am al-Bi'tsah, 610 M). Tetapi, akhirnya yang disepakati panitia adalah usul dari Ali ibn Abi Talib, yaitu tahun berhijrahnya kaum Muslimin dari Makkah ke Madinah ('Am al-Hijrah, 622 M).
Ali ibn Abi Talib mengemukakan tiga argumentasi. Pertama, dalam Alquran sangat banyak penghargaan Allah bagi orang-orang yang berhijrah (al-ladzina hajaru). Kedua, masyarakat Islam yang berdaulat dan mandiri baru terwujud setelah hijrah ke Madinah. Ketiga, umat Islam sepanjang zaman diharapkan selalu memiliki semangat hijriyah, yaitu jiwa dinamis yang tidak terpaku pada suatu keadaan dan ingin berhijrah kepada kondisi yang lebih baik.
Maka, Khalifah Umar ibn Khattab mengeluarkan keputusan bahwa tahun hijrah Nabi adalah Tahun Satu, dan sejak saat itu kalender umat Islam disebut Tarikh Hijriyah. Tanggal 1 Muharram 1 Hijriyah bertepatan dengan 16 Tammuz 622 Rumi (16 Juli 622 Masehi). Tahun keluarnya keputusan Khalifah itu (638 M) langsung ditetapkan sebagai tahun 17 Hijriyah. Dokumen tertulis bertarikh Hijriyah yang paling awal (mencantumkan Sanah 17 = Tahun 17) adalah Maklumat Keamanan dan Kebebasan Beragama dari Khalifah Umar ibn Khattab kepada seluruh penduduk Kota Aelia (Yerusalem) yang baru saja dibebaskan laskar Islam dari penjajahan Romawi.
Kalender Hijriyah setiap tahun 11 hari lebih cepat dari kalender Masehi, sehingga selisih angka tahun dari kedua kalender ini lambat laun makin mengecil. Angka tahun Hijriyah pelan-pelan 'mengejar' angka tahun Masehi, dan menurut rumus di atas keduanya akan bertemu pada tahun 20526 Masehi yang bertepatan dengan tahun 20526 Hijriyah. Saat itu, kita entah sudah berada di mana. "Demi waktu. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian." Begitulah, pesan Alquran dalam surah Al-'Ashr.
Ikhtisar
-Sebelum kedatangan Islam, masyarakat Arab memakai kalender lunisolar yang berpatokan pada matahari.
-Pada kalender tersebut, setiap 19 tahun terdapat tujuh tahun yang mendapat tambahan bulan untuk menyesuaikan awal tahun dengan musim gugur.
-Penetapan penambahan bulan kerap memicu pertikaian di antara para suku.
-Turun perintah Allah untuk menggunakan kalender lunar murni.
-Kalender lunar murni memberikan keadilan bagi seluruh warga bumi, misalnya dalam hal beban puasa.
-Khalifah Umar ibn Khattab memutuskan peristiwa hijrah Nabi dari Makkah ke Madinah sebagai tahun 1 yang diusulkan Ali ibn Abi Thalib.
Republioka, Rabu, 09 Januari 2008

Taufik Kiemas: ’Islam Politik, Berbahaya’

Taufik Kiemas: ’Islam Politik, Berbahaya’

SELASA, 11/9/07, saya menghadiri ceramah Taufik Kiemas, suami mantan Presiden Megawati, dalam acara seminar yang diadakan RSIS (Rajaratman School of International Studies) tempat saya kuliah. Seminar merupakan bagian dari mata kuliah yang wajib saya ikuti.

Taufik Kiemas datang atas undangan Indonesian Center RSIS yang dipimpin oleh Prof. Dr. Leonard Sebastian (Indonesianis Singapura). Tampak hadir menyertai Taufik para petinggi PDIP, di antaranya Pramono Anung, Sutradara Ginting, Puan Maharani dan beberapa yang tidak saya kenal.

Dalam kesempatan itu Taufik memaparkan dua hal pokok. Pertama, soal perkembangan PDIP dan persiapan menghadapi Pemilu 2009. Kedua soal terorisme dan sektarianisme di Indonesia. Pada poin pertama Taufik, dengan bahasa Indonesia yang diterjemahkan oleh seorang translator, memaparkan tentang cita-cita PDIP untuk membangun Indonesia sebagai rumah besar nasionalisme yang bertujuan mempertahankan Pancasila, NKRI dan mewujudkan pluralisme. “Mustahil nasionalisme tanpa pluraslisme,” tukas Taufik.

Untuk mewujudkan rumah besar itu, PDIP harus bekerjasama dengan pihak eksternal. Dalam hal ini ia menyebut Golkar untuk dalam negeri dan Amerika Serikat yang dianggap memiliki kemampuan campur tangan terhadap negara lain. “Saya tidak butuh orang-orang golkar. Yang saya butuhkan adalah Partai Golkar yang berhaluan pluralis,” ujar Taufik.

Sikap itu juga disampaikan saat Taufik dan kawan-kawan berkunjung ke Amerika Serikat (AS). Menurut Taufik, saat di AS ia menegaskan kembali tentang sikap PDIP sebagai partai oposisi di Indonesia dan sebagai partai nasionalisme yang menjunjung tinggi pluralisme.

Saat membahas bagian kedua dari ceramahnya tentang pluralisme dan terorisme di Indonesia, ia menyebutkan bahwa nasionalisme/pluralisme di Indonesia sedang menghadapi apa yang ia sebut sektarianisme. Sektarianisme inilah yang menjadi kelompok teroris. Persoalannya, menurut Taufik, bila kelompok teroris membentuk kelompok tersendiri akan lebih mudah untuk menumpasnya, tapi kini kelompok teroris itu telah masuk ke dalam partai politik sehingga lebih sulit dideteksi. Dan tanpa tedeng aling ia menyebut PKS.

Lebih lanjut ia menjelaskan, karena itulah mengapa kelompok nasionalis yang memperjuangan pluralisme di Indonesia bersatu melawan PKS dalam Pilkada di DKI Jakarta. Karena hanya dengan bersatu padu itulah mereka dapat mengalahkan PKS di sejumlah daerah. “Tampaknya melihat kaum pluralis bersatu mereka takut juga,” tandas Taufik.

Ia juga sempat menyitir pidato Pak Hidayat Nur Wahid, yang saya tidak tahu dimana, bahwa Pak Dayat berbicara tentang nasionalisme dan pluralisme, seolah-olah ia lebih nasionalis dari orang nasionalis sendiri.

Terus terang, mendengar paparan Taufik itu dada saya langsung bergemuruh. Tadinya tidak ada niat saya untuk bertanya. Saya datang hanya untuk menggugurkan kewajiban kuliah saja. Dan kita juga sama-sama tahulah kualitas Taufik, jadi saya pikir tak ada sesuatu yang bisa diambil. Di samping, kedatangan saya juga untuk menjaga hubungan baik saya dengan Andi Widjajanto (anak Theo Syafei yang sedang mengambil Phd. Di Singapura) teman sekelas saya di satu mata kuliah. Saya juga tahu Andi kini menjadi salah satu advicer penting di PDIP terkait persoalan militer.

Pada saat masuk sesi tanya jawab, reflek saya angkat tangan. Saya katakan, sebelum masuk ke pertanyaan saya ingin menanggapi dulu apa yang disampaikan Taufik tentang PKS. Saya perlu meluruskan masalah ini ke audience karena yang hadir adalah para mahasiswa RSIS dari berbagai negara. Apa jadinya jika mereka beranggapan bahwa setiap muslim harus dicurigai sebagai teroris sebagaimana yang disampaikan Taufik. Lebih berbahaya kalau mereka beranggapan PKS adalah supporter teroris di Indonesia.

Dengan sedikit emosi saya katakan, PKS adalah a small party in Indoensia, only 7 percent. PKS dibentuk oleh para generasi muda Indonesia yang mecoba mencari solusi terhadap berbagai persoalan di Indonesia. Mereka bercita-cita ingin membangun apa yang mereka sebut “The New Indoensia”/ Indonesia Baru. Dan perlu dicatat, mereka adalah lulusan universitas secular di Indonesia, seperti UI, UGM, ITB dan IPB.

Lalu saya jelaskan, tampaknya cita-cita mereka ini ditangkap oleh sebagain masyarakat Indonesia berpendidikan dan menginginkan perubahan. Karena itu terbukti, PKS unggul di Jakarta. Di sini saya memberi penekanan: “Jakarta adalah tolok ukur politik di Indonesia. Jika Anda ingin mengatahui the real politics in Indonesia dan proses demokratisasi di Indonesia, look at Jakarta!” Sebab jika Anda melihat Indonesia secara keseluruhan, maka sesungguhnya sebagian besar masyarakat Indonesia berpendidikan rendah yang mudah dibohongi oleh para elit partai.

Setelah itu barulah saya masuk ke pertanyaan sederhana: Apa konsep PDIP untuk membangun Indonesia. Pertanyaan itu tak dijawab secara baik oleh Taufik, karena mungkin ia keburu kaget ada orang PKS terselip di antara hadirin. Setelah tahu saya orang PKS pernyataannya menjadi melunak, ia katakan syukurlah kalo ternyata PKS sudah berubah.

Alhamdulillah, tampaknya hadirin mendapatkan informasi lain tentang PKS, hal itu terlihat dari pertanyaan2 yang terlontar, baik dari orang Indonesia sendiri, Singaporean, Malaysian, semua tampak bernada positif terhadap PKS. Beberapa kawan dari Indonesia dan beberapa negara menghampiri saya mengomentari penjelasan singkat saya itu.

Menurut saya, ceramah Taufik Kiemas di RSIS itu tak boleh dianggap angin lalu. Boleh jadi inilah gambaran sikap PDIP sendiri dan sikap partai-partai lain secara umum terhadap PKS. Sikap ini tampaknya akan melatari kebijakan partai untuk menghadapi Pemilu 2009. Isu terorisme, sektarianisme adalah isu usang namun efektif untuk menjatuhkan citra partai Islam. Sebagaimana tudingan militer secular Turki yang menuding Justice Party di Turki memiliki hidden agenda islamisme.

Wallahu a’lam

SUHUD ALYNUDIN

50 Nanyang Crescent Graduate Hall #03-18 Singapore 637598

Sumber: Risalah Mujahidin, Edisi 14 th II Dzulqa’dah 1428 H / November 2007

Takhayul Politik Tentang Konsensus Nasional

Sunday, December 30, 2007

Takhayul Politik Tentang Konsensus Nasional
Oleh DR. Aidul Fitriciada Azhari, S.H.
(Dekan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta)
Adnan Buyung Nasution dalam disertasinya tentang Aspirasi Pemerintahan Konstitusional di Indonesia (1995) menyebutkan bahwa pandangan yang menyatakan kegagalan Konstituante disebabkan oleh demokrasi liberal pada era 1950-an adalah mitos politik atau takhayul politik yang dibuat oleh presiden Soekarno untuk melanggengkan kekuasaan otoriternya. Mitos atau takhayul politik seperti itu bukan satu-satunya yang dibuat untuk menopang kelanggengan pemerintahan dzalim di Indonesia. Selain itu, ada takhayul tentang UUD 1945, Pancasila sebagai pandangan hidup dan kepribadian bangsa, kesaktian Pancasila hingga takhayul tentang pembangunan nasional. Semua itu belakangan terbukti cuma isapan jempol belaka karena terbukti UUD 1945 sudah diubah-ubah sebanyak empat kali. Demikian juga dengan Pancasila yang dalam ketetapan MPR No. V/MPR/2000 dikembalikan sebagai dasar negara sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 karena Pancasila sebagai ideologi negara telah ditafsirkan secara sepihak oleh penguasa dan telah disalahgunakan untuk mempertahankan kekuasaan. Jadi, Pancasila bukan lagi sebagai pandangan hidup dan kepribadian bangsa dan tidak boleh ditafsirkan lain kecuali sebagai dasar negara.

Takhayul konsensus Nasional
Takhayul politik seperti itulah yang pada tanggal 16 Desember 2007 dikemukakan oleh Presiden SBY dalam pidatonya di depan Rapat Paripurna DPR RI. Dalam pidatonya, Presiden SBY menyebutkan perlunya bangsa Indonesia untuk mempertahankan konsensus nasional, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Bila ditelusuri, istilah “konsensus nasional” adalah retorika politik yang digunakan oleh para pendukung Pancasila sebagai dasar negara dalam perdebatan-perdebatan konstituante. Istilah itu kemudian dimanfaatkan oleh Orde Baru sebagai bagian dari materi indoktrinasi politik dalam penataran-penataran Pedoman Pelaksanaan dan Penghayatan Pancasila (P-4).Istilah konsensus nasional diajukan untuk mematahkan argumentasi kekuatan politik Islam yang mengusulkan Islam sebagai dasar negara. Menurut para pendukungnya, Pancasila yang ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945 telah menjadi “perjanjian luhur” atau “konsensus nasional” di antara bangsa Indonesia yang bersifat abadi dan tidak boleh diubah karena bila diubah akan mengubah negara Indonesia.

Pandangan tentang konsensus nasional seperti itu jelas hanya takhayul karena, pertama, jika pun Pancasila dan UUD 1945 disebut “konsensus nasional” maka konsensus itu hanya bersifat sementara karena sesuai dengan Aturan Tambahan disebutkan bahwa dalam enam bulan sesudah berakhirnya peperangan Asia Timur Raya, Presiden harus membentuk MPR yang dalam enam bulan berikutnya akan bersidang untuk menetapkan UUD.Jadi, konsensus tentang Pancasila dan UUD 1945 yang disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945 seharusnya diubah satu tahun kemudian pada 1946. Tetapi, sebagaimana kita tahu dalam satu tahun itu Presiden Soekarno tidak berhasil membentuk MPR. Sebaliknya UUD 1945 diubah oleh KNIP yang dikuasai kaum sosialis sehingga sistem pemerintahannya berubah menjadi sistem parlementer. Presiden Soekarno baru membentuk MPRS pada tahun 1960 setelah memberlakukan kembali UUD 1945 melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959, tetapi MPRS tersebut tidak pernah menetapkan UUD 1945. Konsensus yang bersifat sementara itu pula yang dijanjikan kepada umat Islam ketika terjadi perubahan tujuh kata dalam Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945 menjadi rumusan “Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagaimana tertulis dalam Pembukaan UUD 1945. padahal sebelumnya, Piagam Jakarta disebut oleh BPUPKI sendiri sebagai antara golongan Islam dan nasionalis. Dengan demikian, jelas Pancasila dan UUD 1945 pada mulanya tidak dimaksudkan sebagai konsensus nasional yang bersifat abadi melainkan hanya bentuk kompromi politik yang ditempuh di tengah dinamika revolusi pada waktu itu. Karena itu, keyakinan akan adanya konsensus nasional sejak berdirinya negara Indonesia hanya takhayul politik belaka karena sejak awal tidak ada maksud untuk membuat konsensus nasional sebagai dasar dari keberadaan negara dan bangsa Indonesia. secara historis konsensus tentang Pancasila dan UUD 1945 hanya melibatkan dua kekuatan politik utama yang bersikap akomodatif terhadap pemerintahan pendudukan Jepang, yakni kekuatan politik Islam dan nasionalis. Karena itu, kedua kekuatan itulah yang terlibat dalam perumusan UUD 1945 di BPUPKI yang dibentuk oleh pemerintahan pendudukan Jepang.Sementara itu, kekuatan sosialis dan komunis yang secara ideologis menjadi musuh fasisme Jepang tidak dilibatkan karena bergerak di bawah tanah. Kelompok sosialis-komunis yang dipimpin oleh Sutan Syahrir dan Amir Syarifuddin inilah yang kemudian mengubah UUD 1945 pada tanggal 14 Nopember 1945 dengan menggeser kedudukan Presiden Soekarno dan ketua KNIP Kasman Singodimejo dan akhirnya membentuk pemerintahan parlementer yang dipimpin sendiri oleh Sutan Syahrir sebagai Perdana Menteri.Ketidakterlibatan kelompok sosialis inilah yang mendorong mereka pada tahun 1999 untuk mengusulkan perubahan UUD 1945 secara total karena dianggap bentukan fasisme Jepang. Usul ini ditolak keras oleh kaum nasionalis yang akhirnya melahirkan kompromi dalam bentuk perubahan UUD 1945.Dengan demikian, keyakinan akan adanya konsensus nasional hanya merupoakan takhayul belaka karena tidak tidak mencerminkan sifat “kenasionalan” yang melibatkan seluruh Indonesia. secara politik, konsensus nasional itu terus berubah dari waktu ke waktu. Faktanya, UUD 1945 telah mengalami empat kali perubahan hingga sekarang, bahkan menyangkut hal yang sangat fundamental. Pancasila juga mengalami penyusutan fungsi hanya sebagai dasar negara. Kemudian NKRI saat ini dilaksanakan dengan aransemen federal dalam bentuk otonomi daerah yang seluas-luasnya dengan kewenangan pusat yang terbatas (pasal 18 UUD 1945). Perubahan-perubahan tersebu terbukti tidak menyebabkan kehancuran negara dan bangsa Indonesia sebagaimana dimitoskan oleh banyak kalangan. Perubahan-perubahan tersebut hanya merupakan keniscayaan belaka yang sesuai dengan sunnatullah dari perubahan dan dinamika masyarakat.Satu-satunya yang tidak dapat diubah dalam kaitnnya dengan eksistensi bangsa Indonesia adalah Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945 yang merupakan causa prima dari adanya negara Republik Indonesia. Tetapi, hal itu pun bila menggunakan Teori Hans Kelsen tak lebih dari initial hypothesis –sesuatu yang harus dihipotesiskan ada dengan sendirinya. Artinya, ya takhayul juga.
Integrasi Bangsa
Bila memahami maksudnya, maka upaya untuk memunculkan “konsensus nasional” adalah untuk menjaga dan mempertahankan integrasi nasional. Akan tetap, cara yang ditempuh masih menggunakan mitos yang sesungguhnya sudah tidak relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan masyaraka modern. Penggunaan mitos-mitos hanya cocok untuk masyarakat tradisional yang masih terbelakang yang memang membutuhkan faktor-faktor integrasi sosial yang bersifat simbolik dan mitologis.
Di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat dewasa ini integrasi bangsa Indonesia akan lebih ditentukan oleh faktor pengikat yang lebih bersifat realistis dan masuk akal. Faktor-faktor integratif seperti itu diantaranya adalah efektivitas penegakan hukum dan pemerintahan hingga ke pelosok-pelosok, alat komunikasi yang efektif termasuk bahasa Indonesia, kesejahteraan yang merata, serta jangan dilupakan nilai-nilai ajaran Islam yang dianut oleh mayoritas penduduk indonesia.
Faktor-faktor integratif yang realistis dan masuk akal itu akan lebih menyatukan masyarakat dan bangsa Indonesia dengan berbgai takhayul yang tidak masuk akal dan kebenarnnya masih diragukan. Fakta selama ini menunjukkan, bahwa disintegrasi bangsa lebih banyak disebabkan oleh faktor-faktor lemahnya penegakan hukum dan efektivitas pemerintahan, tidak lancarnya komunikasi antar berbgai daerah dan masyarakat, kesenjangan sosial yang lebar dan dipingirkannya aspirasi umat Islam sebagai mayoritas bangsa Indonesia. Karena itu, upaya untuk memunculkan kembali konsensus nasional menjadi tidak realistis dan menarik kembali bangsa Indonesia bererak mundur ke belakang menuju keterbelakangan dan kebodohan serta yang terpenting ke-musyrik-an kolektif. Naudzubillahi min dzalik. (posted by fikreatif)
Source: Majalah Risalah Mujahidin Edisi 12/I/Ramadhan/1428 .

Bos Rokok Super Kaya

Bos Rokok Super Kaya

Para ahli hisap (perokok_ed) adalah penyumbang terbesar bagi kerajaan bisnis manusia super kaya di Indonesia. Daftar 150 orang terkaya yang dirilis majalah Globe Asia edisi Agustus 2007, menyebut produsen racun nikotin, yaitu bos tembakau dan perusahaan rokok, adalah pewaris Namrud Indonesia.

Raja tembakau Indonsia, Budi Hartono (bos Djarum) dan Rachman Halim (bos Gudang Garam), menempati posisi pertama dan kedua, manusia terkaya. Dalam daftar yang dirilis 30 Juli 2007, Budi Hartono (66), meraih gelar orang terkaya di Indonesia karena memiliki kekayaan USD 4,2 miliar (Rp. 37,8 triliyun). Selain menambang uang dari berjualan rokok, kantong pengusaha yang merintis usaha dari Kudus, Jawa Tengah itu, semakin tebal dengan setoran keuntungan dari BCA, bank ritel terbesar, dan berbagai aset properti.

Sedangkan Rachman Halim (60), bos Gudang Garam termasuk orang yang tak pernah absen dalam setiap daftar tentang orang terkaya di indonesia. Untuk kelas dunia, dia berada di posisi kedua dengan kekayaan USD 3,5 miliar (Rp. 31,5 triliyun).

Satu lagi pengusaha yang dibesarkan oleh bisnis rokok, Putera Sampoerna, berada di urutan kelima dengan kekayaan USD 2,2 miliar (sekitar 19,8 triliun). Selain dari penjualan saham HMSP ke PT Philip Moris Indonesia yang mencapai Rp. 18,5 triliun, pundi-pundi Putera makin menngunung dengan kesuksesannya merambahbisnis properti di Rusia dan kasino di London.

Executive Chairman of Globe Asia, Rizal Ramli menyatakan, jika digabungkan kekayaan tiga raja tembakau tersebut mencapai USD 10 miliar (Rp. 90 triliun). Jumlah itu hampir 25 persen dari total kekayaan yang dimiliki 150 orang terkaya di Indonesia yang masuk daftar dengan nilai USD 46,6 miliar (Rp. 419,4 triliun).

Beberapa pengusaha kawakan yang masih bertahan adalah Soedono Salim (92) menempati peringkat keempat dengan kekayaan USD 2,8 miliar (Rp. 25,2 triliun). Eka Tjipta, bos Group Sinar Mas, memiliki harta senilai USD 3,1 miliar (Rp. 27,9 triliun) dan berada di posisi ketiga.

Sukanto Tanoto dari Raja Garuda Mas yang bergerak di bidang industri pulpen dan keras serta kelapa sawit memiliki kekayaan USD 1,3 miliar dari bisnis consumer goods dan propertinya.

Sementara Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Aburizal Bakrie menempati urutan kedelapan orang terkaya se-Indonesia. Dengan kekayaan mencapai USD 1 miliar (Rp. 9 triliun). Disusul bos Medco Energy, Arifin Panigoro, USD 900 juta dan Harry Tanoesoedibyo menempati posisi kesepuluh dengn kekayaan USD 900 juta.

Tokoh lain yang masuk dalam daftar orang terkaya adalah Chaerul Tandjung, bos Para Group yang bergerak di sektor perbankan dan media, dia menempati posisi ke lima belas dengan kekayaan USD 565 juta. Raja Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X menempati urutan ke-77 dengan kekayaan USD 140 juta.

Wakil Presiden Jusuf Kalla sebagai pengusaha tercatat memiiki kekayan USD 125 juta dan menempati posisi 84, disusul dengan Pontjo Sutowo dengn kekayaan USD 125 juta.

Rizal yang pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan dan Mantan Menteri Koordinator Perekonomian itu menjelaskan, pemeringkatan didasarkan kepemilikan saham oleh masing-masing individu, baik di perusahaan publik (yang ercatat di bursa saham) maupun yang tidak (non publik).

Memperkaya Pengusaha Rokok

Sebagaimana pernah dikutip mantan Menteri Kesehatan dr. Achmad Sujudi, mengutip WHO tahun 2004, tingkat konsumsi rokok di Indonesia menempati urutan tertinggi ke lima dunia.

Pada tahun 2002 saja, konsumsi rokok di Indonesia tercatat mencapai jumlah 182 miliar batang. Sementara itu berdasarkan data World Health Organization (WHO), urutan pertama konsumsi rokok ditempati China sebanyak 451 miliar batang, Jepang sebanyak 328 miliar batang , dan Rusia sebanyak 258 miliar batang. Menurut data, dari total populasi pria Indonesia, sebanyak 69% adalah perokok.

Artinya lebih dari separuh lelaki yang ada di indonesia ini tiap hari memasukkan bahan beracun ke dalam paru-parunya dan menjadi penymbang terbesar orang superkaya Indonesia yang sebagian hartanya banyak dilarikan ke negara-negara barat. Tak hanya itu, kepulan asap rokok mereka juga membuat banyak perokok pasif terkena imbas kesehatannya secara langsung maupun tidak langsung sekaligus membuat lapisan ozon menjadi semakin tipis karena kadar karbon pada rokok terbilang tinggi dan sulit terurai. (fikreatif)

Source: Majalah Risalah Mujahidin edisi 12/I/Ramadhan/1428

Gambar: http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://www.acehinstitute.org/images/wwwappstateedu_smoke.jpg&imgrefurl=http://www.acehinstitute.org/kolom_oase_saiful_mahdi_rokok.htm&h=338&w=254&sz=40&hl=id&start=5&um=1&tbnid=60VMW4WWdHtX8M:&tbnh=119&tbnw=89&prev=/images%3Fq%3DRokok%2BIndonesia%26gbv%3D2%26svnum%3D10%26um%3D1%26hl%3Did%26sa%3DG

Keteladanan Pak Waras dalam Gerakan Anti Korupsi

Keteladanan Pak Waras dalam Gerakan Anti Korupsi

Ketika korupsi dana non-budgeter DKP mulai disidangkan, dengan terdakwa Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan -Rokmin Dahuri-, Prof. Dr. Amien Rais, mantan ketua MPR –dan banyak tokoh oras dan anggota DPR- mengaku ikut menerima aliran dana tersebut, dan bersedia mengembalikan ke kas negara. Orang pun kemudian ramai memuji penadah dana DKP tersebut. Di Surabaya dan di Solo dan mungkin di kota-kota lainnya terpampang spanduk-spanduk: “Biar Maling Asal Jujur”. Aneh memang. Saya pun mengernyitkan dahi ketika membacanya.

Sekarang kita tinggalkan dulu kasus DKP untuk saya ajak teman-teman netter sebentar mampir di Desa Siring, Kecamatan Porong, Sidoarjo. Kita kunjungi sebentar sesorang yang sudah cukup sepuh bernama Pak Waras yang tinggal di situ. Beliau ini berusia sekitar 56 tahun, maka terbilang sudah cukup sepuh. Beliau termasuk bagian dari ribuan korban Lumpur Panas Lapindo Brantas Inc. di Sidoarjo.

Alkisah, dengan jujur dan waras serta tanpa dilabeli dengan kepentingan politik apapun, beliau mengembalikan kelebihan ganti rugi lahan yang terkena lumpur sebesar Rp. 429,4 juta kepada PT. Minarak Jaya Lapindo (MJL). Kesulitan dan kesusahan sejak mendapatkan musibah banjir lumpur Sidoarjo tidak membuat Pak Waras sekelurga, meski didera derita, ingin memakan harta yang bukan haknya.

Hal ini terjadi saat Pak Waras mendapatkan pembayaran dari hasil transaksi dengan PT. MLJ atas rumah, tanah pekarangan, dan tanah sawah miliknya. Setelah lolos verifikasi, bidang tanah miliknya tersebut diperhutungkan 100 persen sebesar Rp. 286 juta. Sesuai dengan Perpres 14/2007, Pak Waras mendapatkan uang muka 20 persen dari nilai transaksi yakni sebesar Rp. 56 juta lebih dan dananya ditransfer melalui Bank Mandiri.

Namun, beberapa hari setelah melakukan transaksi pertengahan Juli 2007, ia terkejut melihat rekeningnya berisi uang Rp. 485 juta.

“Kami sekeluarga langsung klenger (tak sadar) saat tahu di rekening kami kelebihan dana Rp. 429 juta. Bayangkan! Mestinya kami hanya terima Rp. 56 juta, kok kelebihan Rp. 429 juta. Rasanya, tidak enak makan dan tidur,” kata Ny. Astiyah, istri Pak Waras.

“Maka, saya lapor ke perangkat desa agar diberi tahu bagaimana caranya mengembalikan ke PT. MLJ. Saya takut dipenjara karena mendapatkan kelebihan uang yang bukan hak saya,” kata Pak Waras dengan polos.

Bukan hanya Astiyah yang mendukung suami mengembalikan uang itu. Kedua anak mereka pun mendukung. Sri Wahyuni dan Iswanto –yang sedang menjadi pengangguran akibat pabrik tempat kerja mereka ikut terendam lumpur panas- juga mendukung keputusan sang ayah.

“Kami berdua memang sedang menganggur dan butuh uang, tapi buat kami kejujuran adalah hal yang utama. Kalau memang bukan hak kami, harus kami kembalikan, “ kata Sri Wahyuni.

Meski mereka mengakui, uang Rp. 429 juta sangatlah besar bagi keluarga mereka, namun Wahyuni tidak akan menyesalkan keputusan keluarga mereka mengembalikan uang milik PT. Minarak Lapindo Jaya.

Akhirnya, dengan dibantu perangkat desa dan para relawan, Pak Waras beserta keluarga berusaha menemui PT. MLJ dan mengembalikan kelebihan daa sebesar Rp. 429.440.000,- plus bunganya sebesar Rp. 300.000,-. Mendengar kabar tersebut, kini giliran para petinggi PT. MLJ yang merasa terkejut. Sebab, di tengah banyaknya orang yang berusaha menarik keuntungan dari Lapindo terkait dengan semburan lumpur panas sejak 15 bukan terakhir ini, justru ada orang yang tetap menjaga kejujuran, meski mereka sedang menderita.

“Apa enaknya kami makan uang yang bukan menjadi hak kami. Sebelum uang itu resmi kami kembalikan, kami sekeluarga tidak bisa makan dan tidur. Alhamdulillah, akhirnya uang itu bisa kami kembalikan,” kata Wahyuni.

Sebagai penghargaan atas kejujuran dan keputusan Pak Waras, Manajemen PT Minarak Lapindo Jaya memberikan tali asih berbentuk uang tunai Rp. 20 juta dan perhiasan senilai Rp. 30 juta. Pemberian tali asih ini diberikan Dirut PT. MLJ Bambang kepada Pak Waras disaksikan Komisaris Utama PT MLJ Gesang Budiarso, Vice President PT. MLJ Andi Darussalam Tabussala, dan komisaris PT. MLJ Ari Santoso, di Surabaya.

“Saya sudah biasa hidup susah seperti ini. Karena itu, saya tidak mau hidup kami bertambah susah kalau makan hrta yang bukan hak kami,” tegasnya.

Apa yang mendorong Pak Waras mengembalikan uang sebanyak itu ternyata bukan karena beliau mengikuti penataran moral Pancasila atau P4 atau Demokrasi. Tetapi, sebagai muslim, ia meyakini, bahwa harta (uang) yang bukan haknya harus dikembalikan . Baginya, menerima harta yang bukan menjadi hak-nya hanya akan menyiksa diri.

Ketika ditnyakan, bukankah tidak ada yang melihat seandainya beliu mengambi uang tersebut, maka Pak Waras menjawab dengan tegas, “Tapi Allah SWT melihat”.

Tambahnya,”Hidup kami bakalan tidak tenang, jika kami tidak mengembalikan uang yang memang bukan hak kami. Buat apa hidup dibuat susah. Kami ingin hidup dengan tenang”.

Setelah kita berkunjung ke rumah Pak Waras, apakah kita masih menilai bahwa orang-orang yang “jujur” mengembalikan uang DKP lebih baik dari Pak Waras? Kejujuran Pak Waras tentunya tidak bermuatan politik apapun, yang tentunya berbeda dengan “kejujuran” para politikus kita yang seringkali mengatakan bahwa “politik itu kotor”. Semoga kita bisa mendapatkan pelajaran dan mengikuti teladan Pak Waras yang masih waras.

Imam Syafi’i berkata,“Apabila kamu takut amalmu itu menimbulkan rasa ta’ajub (sombong atau riya’), maka ingatlah ridha siapa yang kamu harapkan, balasan baik mana yang kamu inginkan, balasan buruk siapa yang kamu takuti, kebaikan siapa yang pantas kamu syukuri, dan cobaan mana yang harus kamu waspadai. Sesungguhnya bila engkau ingat salah satu dari kesimpulan itu, niscaya amalmu itu akan kecil di matamu.” (fikreatif)

Source: Majalah Risalah Mujahidin Edisi 12/I/Ramadhan/1428

Foto: http://www.liputan6.com/daerah/?id=146134

Lorong Waktu

Friday, December 28, 2007

Sehari sudah lesu berpuasa

Hidangan berbuka sudah tersedia

Jangan kamu menghabis masa

Mulailah beribadat semasa belia

Ketika masih sekolah di SD, Rama diminta orang tuanya untuk ibadah dan belajar mengaji di mushola di kampungnya, dia selalu menjawab, ”ntar ah, kalau dah gedhe..? kalo dah smp”. Ketika berada di bangku SMP, lagi dia diminta belajar mengaji ke mushola. Kali ini dia menjawab, ”di mushola, yang mengaji hanya anak-anak SD, sekarang saya dan SMP, malu masak main sama anak SD. Ntar aja, kalau dah SMA. Saya privat mengaji”. Tiga tahun berselang, Rama sudah duduk di kelas 2 SMA Negeri terbaik dan terfavorit di kotanya. Kembali sang orangtua memintanya untuk belajar mengaji. Dia beralasan lagi, ”saat ini saya sudah SMA kelas 2, jadi saya harus benar-benar belajar biar bisa bertahan di kelas IPA. Wakt saya sudah habis untuk les dan kegiatan sekolah”. Saat duduk di kelas tiga, dia berujar, ”sekarang saya sudah kelas tiga, saya harus belajar giat agar bisa ketrima di universitas negeri, maka itu saya akan menghabiskan waktu saya untuk latihan soal, les pelajaran, dan persiapan ujian nasional”. Akhirnya, setelah belajar dengan sungguh-sungguh, Rama pun berhasil ketrima di Fakultas Kedokteran Universitas Negeri ternama. Kali ini, ayahnya benar-benar mewanti-wanti Rama agar belajar mengaji. Lagi, Rama mengatakan kepada ayahnya, ”Pah, di kedokteran, nyari waktu luang itu susah. Hampir tiap hari ada tugas, tugas, tugas, dan membaca, serta membaca. Lagian Semarang, saya dah punya pacar, saya hanya bisa ketemu dua kali seminggu. Ntar aja kalau saya dah mau lulus”. Ketika Rama wisuda, sang pacar ternyata meminta Rama agar segera melamar dia. Rama tak bisa menolak. Pacaran yang telah dibina selama 4 tahun harus dia akhiri sekarang juga dengan pernikahan. Beberapa tahun menikah, akhirnya Rama dan istrinya dikaruniai seorang anak yang kini telah berusia sekitar 8 tahunan. Pada suatu saat, anaknya tersebut ditegur dan diminta guru SD-nya agar belajar mengaji karena dia belum bisa mengaji. Kemudian, sang anak meminta ayahnya agar mau mengajarinya mengaji. Sang anak tidak mau, kalau yang mengajarinya mengaji adalah orang lain. Sesaat kemudian, Rama terbayang masa kecil dan masa lampaunya. Dalam hatinya dia bergumam, ” Berapa tahun aku tertidur dan terlelap dalam kesendirian sunyi senyap kegelapan? Duhai, sang masa, andaikan kau bisa kuputar kembali?” sambil meneteskan butiran air mata yang mengalir di hidungnya.

****

Betapa kita sangat lupa akan sebuah hal yang memiliki nilai yang sangat besar. Ya, waktu. Dalam budaya Eropa, kita mengenal istilah waktu adalah uang. Sedangkan dalam budaya Arab, kita mengenal istilah waktu adalah pedang. Keduanya memiliki arti esensi yang hampir sama, yaitu betapa berharganya ”sang waktu” ini. Kalaulah kita salah menggunakan waktu ini, dengan sebaik-baiknya, maka kita bisa tertebas oleh pedang. Kita bisa terbujur kaku, mati di makan oleh waktu.

Mari kita coba hitung waktu kita selama sehari penuh. Berapa jamkah kita habiskan waktu kita untuk kegiatan yang bermanfaat? Mungkin nggak seberapa..?

Kenapa? Karena kita sering menghabiskan waktu kita untuk kegiatan yang kurang manfaat. Lihat saja, waktu kita habis untuk 8 jam tidur di malam hari, ½ jam untuk mandi dua kali sehari, 1-2 jam untuk tidur siang, 2 jam untuk bermain komputer, 2 jam untuk bermain game (playstation), 2 jam untuk menonton televisi, total waktu 1 jam untuk ber-sms ria, chatting via handphone, dan telpon doi, 1 jam untuk total perjalanan dari tempat satu ke tempat yang lain, dan 1 jam untuk yang lainnya. Lantas berapa sisa waktu yang kita miliki untuk melakukan hal yang manfaat? Untuk ibadah, membaca, belajar, dan lainnya?

Kalau dihitung, tidur kita selama kita hidup di dunia ini mungkin berkisar sepanjang 21 tahun. Ya, 21 tahun kita mungkin menghabiskan waktu kita hanya untuk tidur (dengan asumsi kisaran umur manusia 63 tahun). Anda kaget? Nggak percaya..? coba anda hitung sendiri!

Oleh karenanya, tidak salah bila Sang Pencipta mengatakan bahwa kita (manusia) ini benar-benar dalam kerugian. Tambah-Nya, hanya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran saja yang tidak mengalam kerugian. Semoga kita terhindar dari orang yang mengalami kerugian itu.

Saat ini mungkin ”sang waktu” sedang bersenandung dan berkata kepada kita, para manusia ini dengan ini, ”Ribuan hari aku menunggumu, jutaan waktu tercipta untukmu, apakah kau akan terus begini..? Masihkah adakah celah dan tempat di hatimu, yang masih bisa untuk aku singgahi, apakah kau akan terus begini?”

(fikreatif) Gambar:

Sang Putri

Menanggung dosa itu berat

Walau pun pada orang yang alim

Wajib manusia menutup aurat

Terutamanya pada wanita muslim

Ada sebuah cerita di sebuah kota di Jawa Tengah. Cerita ini saya peroleh dari seorang guru yang mengajar di sekolah menengah atas negeri di kota Solo. Alkisah, ada seorang mahasiswi yang hendak pulang dari kegiatan kampus. Pada saat itu, jarum jam menunjuk waktu pukul 9 malam. Meskipun di kota, bus-bus yang biasa berlalu lalang sudah waktunya pulang dan masuk ”kandang”nya. Begitu pula dengan angkot. Memang khusus untuk angkot, biasanya beroperasinya bisa nyampai pukul 12 malam. Hanya saja, sangat sedikit dan sulit untuk menemukan angkot di waktu malam, sekalipun di kota. Terlebih lagi, letak kampus si wanita tersebut berada di pinggiran kota. Untuk mencari taksi, dia setidaknya harus telephone ke taxi center terlebih dahulu. Dan dia sendiri tidak hafal nomor teleponnya. Beberapa menit kemudian, sebuah mobil minivan menghampirinya. Mobil tersebut isinya pria semua. Hanya ada satu wanita usia tengah baya. Setelah membuka kaca mobil, salah seorang isi mobil tersebut lantas menawari tumpangan. Setelah berpikir sesaat, si wanita pun mengiyakan untuk ikut tumpangan mobil tersebut. Padahal waktu itu, si wanita sudah bingung dan dikecam rasa takut, apakah dia bisa pulang apa tidak. Ketika di mobil pun, si wanita tersebut juga masih merasa takut kalau ternyata dia justru salah masuk mobil. Dia takut jangan-jangan dia akan di”apa-apa”kan. Lantas, sang perempuan itu memberanikan untuk bertanya kepada para pria yang ada di dalam mobil di tengah perjalanan menuju rumahnya,

“kenapa mas-mas mau memberikan saya tumpangan?” ujarnya.

“sebenarnya, kami tuh merasa hormat kepada mbak. Mbak kan mengenakan jilbab, jadi kami takut kalau-kalau ada sesuatu terjadi pada mbak. Meskipun kami ini bukan orang alim, tapi kami bisa kok untuk menghormati wanita yang terhormat” ujar salah seorang diantara mereka dengan agak pelan.

********

Benar juga orang bilang bahwa kehormatan seseorang bisa diukur dari pakaian yang dikenakan. Dalam sebuah pepatah jawa dikatakan, bahwa kehormatan itu gumantung ono ing lathi lan busono. Artinya bisa dilihat dari kalimat-kalimat yang diucapkan dan pakaian yang dikenakan.

Di tengah perkembangan budaya dan tradisi yang berkiblat pada dominasi budaya eropa, orang pada masa sekarang lebih tertarik mengembangkan budaya fisik yang justru kurang membangun. Kini orang dengan bangga menunjukkan dan mempertontonkan hampir seluruh bagian tubuhnya. Tidak hanya di televisi, di jalananan, di mall, restaurant, dan di tempat-tempat umum pun kini banyak kita saksikan ”pemandangan” wanita yang memperlihat dada, pantat, dan pusar serta ketiaknya di tengah umum. Anehnya lagi, terkadang kita, kalangan kaum hawa, juga merasa tidak jengah menjadi objek seperti itu. Justru senang. Semakin banyak dilihat semakin siip. Yang lebih aneh lagi, para suami juga sering bangga dan ingin membanggakan kecantikan istrinya itu di depan umum. Di pesta-pesta pun, para suami dengan bangganya menunjukkan kepada para koleganya ”ini lho istrinya saya, cantik kan...?”. Gejala seperti ini sebenarnya aneh. Seorang suami seharusnya justru harus merasa cemburu jika istrinya dilihatin oleh orang-orang. Kalau tidak demikian, lantas apa bedanya suami dengan orang lain jika sama-sama bisa menikmati ”keindahan” istrinya. Oh duhai para wanita, ”keindahanmu” melebihi pahatan para pematung yang membuat arca, melebihi keelokan lukisan sang maestro Da Vinci yang penuh dengan misteri, melebihi pemandangan alam yang menyejukkan mata memandang, maka itu tutuplah keindahanmu dengan iman dan takwa. (fikreatif)

Gambar: http://www.rumahliza.com/files/Aina2_m.jpg

Membuat Format Gerakan Anti Korupsi Dalam Aksi Sederhana dan Praktis

Membuat Format Gerakan Anti Korupsi Dalam Aksi Sederhana dan Praktis

Catatan prestasi Indonesia masih bisa dibilang berada di posisi atas dalam peringkat Negara terkorup di dunia. Kenyataan itu mau tidak mau dan suka tidak suka harus kita terima. Perubahan era dari masa kelam orde lama kemudian menjadi orde baru yang kemudian tumbang di tangan orde reformasi pun belum mampu memperbaiki peringkat Indonesia supaya bisa tinggal kelas. Fakta yang muncul justru sebaliknya, kinerja pemerintahan dan perkorupsian justru bertambah makin marak. Ada sebuah opini yang cukup mengiris hati nurani di dalam masyarakat, bahwa korupsi yang terjadi dahulu dilakukan di bawah meja, namun korupsi yang Terjadi sekarang justru dilakukan dengan membawa mejanya sekaligus. Entah ungkapan itu benar atau tidak penulis kurang bisa membuktikan, karena penulis bukanlah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Hanya saja, fakta yang ada di dalam berita menyebutkan bahwa sekarang ini sudah Banyak sekali kepala daerah dan anggota dewan perwakilan daerah yang sudah meringkuk di penjara atas kasus korupsi berjamaah. Di Solo, kasus tersebut sudah memakan dua anggota dewan, sementara yang lainnya tinggal menunggu bom waktu semata.

Aneh memang, dan sungguh memang aneh sekali. Indonesia yang bermoralkan Pancasila yang konon sangat mengedepankan kejujuran seolah tak ada bekasnya. Pelajaran dan penataran P-4 yang dilakukan dan diwajibkan kepada hampir seluruh rakyat Indonesia ternyata tidak mampu mencetak manusia yang bermoral.

Tak hanya itu, fakta agama Islam yang dipeluk oleh mayoritas rakyat Indonesia ternyata tak mempan menangkis virus korupsi ini. Pendidikan akhlak dan moral Pancasila hanya menjadi lip service belaka. Pendidikan akhlak dan moral hanya menjadi sebuah wacana dan pelajaran semata. Lantas siapakah yang harus disalahkan?

Tentu tak baik bila kita menuduh orang lain sebagai kambing hitam kesalahan itu. Penulis melihat bahwa tradisi korupsi itu terjadi dan menjamur juga disebabkan oleh kita sendiri. Sejak kecil kita sudah trerbiasa dan mungkin dibiasakan oleh orang tua untuk berbohong. Satu contoh kecil yang bisa kita ambil, kita sering menakut-nakuti adik-adik kita di kala mereka masih balita dengan “hantu-hantu”, dengan “binatang-binatang buas” yang sebenarnya tidak ada. “Dik, kamu jangan pergi ke sana, nanti dibawa wewe gombel lho, nanti ada macan lho.. dst”. Sadar atau tidak sadar, kedustaan yang telah terbiasa kita lakukan dari hal yang kecil seperti itu akan mudah terekam dalam memori kita dan adik-adik kita. Ketidakjujuran tersebut lambat laun akan memproses diri kita kepada tindakan yang tidak jujur dan akhirnya korupsi pun dianggap tradisi.

Sangat menarik jika saya teringat ketika saya pertama kali kuliah di fakultas Sastra dan Seni rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta. Saat itu saya diajak oleh senior ke kantor sekretariat sebuah UKM (Unit Kegiatan mahasiswa) di FSSR. Di sana, penulis menjumpai ada semacam warung kecil yang menjual snack-snack dan minuman untuk kebutuhan mahasiswa. Di keranjang yang dijadikan sebagai tempat showroom, tertera daftar harga seluruh makanan atau minuman yang ada. Di atas keranjang tertulis pada kertas karton sebuah tulisan yang dibaca “Warung Jujur”. Setelah saya bertanya dengan salah satu senior tentang maksud dari warung tersebut, maka saya menjadi paham. Ternyata warung tersebut sengaja tidak ada penjaganya. Apabila ada seseorang yang ingin beli sesuatu, maka cukuplah yang bersangkutan mengambil barang dan meninggalkan uang senilai harga yang tertera diatas kertas. Kemudian, uang tersebut dimasukkan di dalam gelas air mineral yang terisi beberapa uang koin yang sengaja disediakan sebagai uang kembali. Saya terkejut dengan sistem dagangan seperti itu. Ternyata oleh kepala bidang Kewirausahaan lembaga UKM tersebut dikatakan bahwa, sesuai dengan namanya, warung itu memang sekaligus digunakan sebagai pembelajaran tentang kejujuran.

Cerita yang hampir sama, saya temui di Kudus. Di sekolah menengah Pertama Kudus (SMPK-Kudus), para siswa diajarkan dan dibiasakan dengan system warung jujur sebagaimana di atas. Lebih hebatnya lagi, warung tersebut secara kuantitas barang lebih besar dan Banyak. Tak hanya menjual snack, tapi juga menjual alat-alat tulis kebutuhan siswa dan guru. Sistem pembayarannya hampir sama, tetapi ada tambahan sedikit. Setiap pembeli diharuskan mencatatkan barang yang dibelinya serta harga dan jumlah yang dibeli di buku yng telah disediakan. Sehingga, dalam pengecekannya, pengelola warung jujur tersebut tinggal mencocokkan uang dengan catatan dalam buku tersebut (M. Basuki Sugita-Jalan Terjal Mendidik Anak Jujur dalam Kompas, Senin 24 Desember 2007).

Pada dua contoh di atas, pengelola -dalam penangkapan penulis- bermaksud mendidik dan mengajarkan kejujuran sebagai dasar moral anti korupsi dalam tataran praktis dan sederhana. Sehingga wacana gerakan anti korupsi atau gerakan kejujuran tidak hanya menjadi wacana penghias semata. Setidaknya, dari pengamatan yang penulis lakukan di institusi yang pertama, terlihat bahwa hal ini cukup efektif dalam membina kejujuran. Hampir tidak pernah ada kasus uang hilang di lembaga tersebut. Lebih luasnya, di Fakultas Sastra dan Seni Rupa pun mahasiswanya -meskipun terkesan jorok dan sangar karena hampir penuh dengan mahasiswa yang berambut gimbal- sangat menjunjung kejujuran ini. Pernah suatu kali, teman saya kehilangan dompet akhirnya balik. Sebuah handphone pernah juga hilang, tetapi akhirnya bisa juga kembali, padahal kalau mau, handphone tersebut bisa saja diambil dan dijual. Sementara sim card-nya tinggal dibuang.

Dari sini, penulis melihat bahwa wacana gerakan untuk kejujuran atau gerakan anti korupsi harus lebih dijiwai dalam tataran praktis. Adanya spanduk-spanduk himbauan atau iklan-iklan dan promosi-promosi gerakan anti korupsi justru hanya akan hilang percuma apabila tidak diawali dengan perbuatan. Bahkan mungkin, jangan-jangan iklan anti korupsi tersebut justru menjadi ladang berkorupsi baru bagi para pejabat.

Apa yang dilakukan oleh SMPK Kudus adalah sebuah langkah progressif dan efektif yang sepantasnya untuk kita dukung. Bahwa pendidikan itu adalah dimulai dari sejak buaian hingga kematian bisa diterapkan di sini dalam rangkap menanamkan sifat dan sikap kejujuran sejak dini. Akan tetapi yang menjadi pertanyaan penulis adalah, apakah pemerintah dan para pejabat mau mendukung dan mempraktikkan metode yang kering dan tidak basah ini? (fikreatif)

Gambar: http://prismanalumsari.files.wordpress.com/2007/09/adadfov11.jpg

Tips Menghindari Ketombe

Tips Menghindari Ketombe

Jangan pernah mencuci rambut anda dengan air panas. Jika terlalu panas akan merangsng terbentuknya ketombe.

Solusi I

Ramuan Jus Wortel

Pijatlah kulit kepala anda dengan jus wortel, seminggu sekali, sebelum mencuci rambut anda.

Solusi II

Ramuan Minyak Kayu Putih dan Cengkeh

Minyak kayu putih dan minyak cengkeh yang dicampur dengan perbandingan 3:1 digunakan untuk memijat kepala setiap malam.

Solusi III

Ramuan Air Bunga Mawar

Untuk rambut berminyak dan berkotembe campurkan air bunga mawar dengan eau de cologne dengan perbandingan yang seimbang, lalu pijatlah kulit kepala anda dengan ramuan tersebut. Diamkan selama satu jam. Lalu bilaslah dengan shampoo.

Solusi IV

Ramuan Susu Diasamkan

Gunakan Susu yang diasamkan untuk kulit kepala anda dan biarkan selama setengah jam. Kemudian bilaslah dengan shampoo.

Solusi V

Gunakan minyak kelapa yang dihangatkan untuk rambut anda, lalu biarkan semalaman. Campurkan garam dalam sedikit jus lemon, lalu gunakan pada kulit kepala anda. Bilaslah setelah setengah jam.

Solusi VI

Ramuan Jus Jerus Nipis

Campur 3 Sendok makan jus jeruk nipis dengan ¼ cangkir minyak kelapa, lalu pijatlah kulit kepala dengan ramuan tersebut. Bilaslah dengan shampoo satu jam.

(fikreatif)

Source: Meenakshi Sinha,et.al. .2005. Rahasia Rambut Indah. Yogyakarta: Penerbit Orchid

gambar: www.victorybeautyclinique.com/images/HAIR1.jpg

Umat Islam Harus Bersatu!!!

Sunday, December 23, 2007

Umat Islam Harus Bersatu !!!

Serangan tentara Israel terhadap para pejuang muslim di Palestina dan Lebanon beberapa hari yang lalu dan sampai sekarang masih berlangsung mewarnai pemberitaan di semua surat kabar. Serangn yang konon dilatarbelakangi oleh upaya pembelaan diri dan upaya pembebasan terhadap dua orang serdadunya yang ditawan oleh pejuang Hammas di Yordania tersebut sampai kini masih berlangsung dan bahkan meluas tidak hanya terarah pada Hammas saja tertapi juga sampai ke Lebanon. Bahkan kemungkinan serangan tersebut tidak akan berhenti di situ dan justru akan lebih meluas akibat pernyataan dari sang bos presiden AS George Bush yang tidak menyalahkan tingkah polah Israel tetapi justru menyalahkan pejuang Hizbullah di Lebanon selatan yang ikut campur. Tidak berhenti itu saja, cucu Paman Sam tersebut juga mengarahkan tuduhan ke arah Iran dan Suriah yang diduga mendukung dan menjadi sponsor atas serangan balasan dari para pejuang Hammas dan Hizbullah.

Situasi yang “ruwet” inilah yang memaksa umat islam di seluruh dunia menunjukkan empati dan simpati serta solidaritas mereka atas tindakan para tentara Israel. Di Indonesia, seluruh umat islam-pun mulai bergerak dan menunjukkan sikap solidaritas mereka dengan mengadakan aksi-aksi damai mengecam kekejaman tentara Israel, serta mendesak negara-negara islam untuk bersatu melawan tindakan Israel. Hujatan-hujatan diteriakkan atas Israel dan Yahudi di dalam aksi-aksi demonstrasi dan mimbar-mimbar masjid, penggalangan dana dilangsungkan di setiap daerah oleh semua ormas-ormas islam, di hampir setiap masjid dibacakan qunut nazilah ketika sholat wajib, bahkan sampai pendataan relawan-relawan mujahidin ke palestina pun ada juga dilakukan. Namun, di tengah-tengah aksi-aksi yang dilakukan umat islam tersebut terganjal sedikit kerikil-kerikil yang mengganggu penulis sehingga penulis menuliskan artikel ini. Ganjalan dan kerikil yang penulis rasakan tersebut adalah ketidakbersatuan umat islam dan ormas islam dalam menanggapi kasus palestina tersebut.
Hampir selama satu pekan ini, di Kota Solo berlangsung aksi-aksi solidaritas Palestina dari kelompok islam yang berbeda-beda. Hari Jumat, 14 Juli 2006, ratusan massa yang menamakan diri Forum Komunikasi Aktivis Masjid (FKAM) menggelar aksi solidaritas, tabligh akbar, dan penggalangan dana dengan long march dari Masjid Kotta Barat menuju Bunderan Gladak yang diakhiri orasi. Hari Selasa, 18 Juli 2006, giliran puluhan massa mahasiswa yang didominasi para wanita yang merupakan gabungan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) se Surakarta mengadakan aksi serupa dengan long march menempuh jalur Kampus UNS Mesen menuju Bunderan Gladak. Terakhir, seolah tak ingin kalah dari dua aksi sebelumnya, massa islam yang mengatasnamakan diri Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) se Kota Solo Raya juga mengerahkan puluhan massanya untuk mengadakan aksi yang serupa dengan dua aksi sebelumnya.
Secara sengaja, penulis ikut menyaksikan ketiga aksi solidaritas tersebut hingga merasakan suasana adrenalin yang memuncak ketika hentakan takbir merasuk jiwa. Namun, tak berlangsung lama kemudian penulis menyaksikan suasana sekitar dan sedikit merenungkan sesuatu.
Terlintas pikiran bahwa ternyata ada yang nggak beres di dalam aksi tersebut. Sebetulnya kesalahan bukan pada materi aksinya, tetapi lebih dari itu adalh pandangan masyarakat umum terhadap umat islam itu sendiri. Dari kejadian di atas bisa diambil kesimpulan bahwa ketiga aksi yang berlangsung tersebut adalah dilakukan oleh massa umat islam. Namun, masyarakat dan penulis pun bnerpikir mengapa setiap hari ada aksi serupa dari massa umat islam. Bukankah lebih efisien dan efektif apabila ketiga aksi tersebut bergabung menjadi satu aksi yang besar yang tidak hanya melibatkan ketiga kelompok tersebut saja tetapi juga kelompok massa islam yang lain yang “belum” mengadakan aksi. Penulis mengkhawatirkan aksi-aksi itu selain ditujukan untuk solidaritas kepada pejuang Palestina berefek negatif pada sikap fanatisme kelompok atau golongan diantara umat islam yang justru memecah belah kesatuan umat islam. Hal ini penulis ungkapkan bukan tanpa alasan. Di salah satu pamflet ajakan aksi dari salah satu kelompok massa tersebut tertulis kalimat yang bisa menimbulkan sikap fanatisme kelompok (ta’ashubiyyah) dan menjelekkan kelompok lain. Kalimat yang berbunyi “solidaritas palestina bukan hanya monopoli partai politik tertentu saja” adalah kalimat yang memojokkan kelompok islam tertentu dan bisa menyulut prmusuhan dan kebencian di antra jamaah islam. Padahal, perpecahan adalah sesuatu yang sangat dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya. Sesudah aksi tersebut berlangsung, seolah menjawab aksi sebelumnya, maka berlangsunglah aksi berikutny dan berikutnya dan mungkin akan muncul aksi dari kelompok yang tidak ingin ketinggalan lainnya. Situasi seperti inilah yang besar atau kecil akan bisa menimbulkan friksi dan gesekan serta perpecahan di kalangan jam’atul muslimin di Indonesia dan dunia mungkin. Padahal Allah menjelaskan bahwa umt islam hendaknya bersatu padu dalam mengahdapi makar kaum kafir.
……….
Dari uraian di atas maka bukankah bersatu lebih baik dari pada berpecah? Lalu, bukankah sikap menahan diri dari ghibah terhadap umat islam lain itu lebih baik? Dan bukankah sikap egoisme dan ta’ashub itu hrus ditinggalkan? Penulis mengharapkan kejadian yang berlangsung beberapa waktu yang lalu tersebut bisa dijadikn ibroh dan sarana muhasabah bagi umat islam dan ormas islam semuanya. Ketika ada kejadian yang menyengsarakan umat islam di kawasan belahan dunia lain, maka kelompok-kelopmpok islam harus segera berkomunikasi. Jangan hanya karena yang mengadakan aksi tertentu adalah bukan dari kelompok kita maka kita tidak mau ikut berpartisipasi di dalam aksi tersebut. Tetapi, kita justru langsung ikut berpartisipasi dan ikut larut sekalipun tanpa undangan dalam aksi yang diadakan oleh kelompok lain tersebut. Hal-hal seperti inilah yang nantinya akan mengikis sikap ta’ashub dan memupuk rasa ukhuwah islamiyah dan imaniyah yang sebenarnya.
Semoga aksi-aksi yang telah dilangsungkan oleh kelompok-kelompok islam selama ini benar-benar dilandasi rasa keikhlasan dan menghindarkan diri dari sikap ta’ashub yang sangat dibenci Allah dan Rasul-Nya. Dan semoga aksi umat islam yang belangsung secara estafet di solo beberapa waktu yang lalu juga hanya karena alasan fas tabikhul khoirot atau berlomba-lomba dalam kebaikan tanpa mengesampingkan keompok yang lain. (fikreatif)

WASIAT MUKHLAS DKK

Bissmillahirrakhmanirrakhim


RISALAH TAKLIMAT
(Pernyatan Sikap)

Kami beritahukan kepada kaum muslimin bahwa kami sedang menghadapi tiga pilihan, seluruhnya kebaikan bagi kami dan keburukan bagi musuh-musuh kami.

Pilihan pertama : Dibebaskan, karena dengannya, kami dapat meneruskan dakwah dan jihad kami, kami ingin mati syahid di medan laga dan tempur. Insyaallah.

Pilihan kedua : Dieksekusi, karena denganya kami akan bertemu dengan kekasih-kekasih kami, para nabi, shiddiqin, syuhada, shalihin dan hurun'in (bidadari) yang cantik jelita.

Pilihan ketiga : Penjara, karena denganya kami dapat berkhalawat dengan Allah Jalla Jajaluhu. Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah : 'apa yang dibikin musuh-musuhku padaku, aku surgaku dalam hatiku, dan temanku dalam dadaku, ke mana saja aku pergi, ia bersamaku. Aku penjaraku khaiwah (tempat beribadah), dan aku dibunuhku adalah mati Syahid, dan ia diusirku dari negeriku adalah siyahah (melancong) fie sabililah'.

Dan seandainya kami dieksekusi, maka cucuran dan tetesan darah kami-Insya Allah budznillah akan menjadi nur (cahaya lentera) bagi kaum mukminin, dan menjadi nar (neraka api penghangus) bagi kaum kafirin dan kaum munafiqin.

Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar
Mujahidin yindahbad, kafirin, munafiqin murdarbad
Khazabbnallah waniqmal wakiil, nikmal mauta, waniqmal nasyiir
Walhamdullilahi rabil 'alamin

Dari kami

tertanda

Ali Ghufron Imam Samudera Amrozi

Bumi Allah, Lapas Batu, Nusakambangan, Syaban 1428 H. (fikreatif)

 
ES-TE-EM-JE - Wordpress Themes is powered by WordPress. Theme designed by Web Hosting Geeks and Top WordPress Themes.
por Templates Novo Blogger